Menulis ini dengan penuh rasa syukur betapa aku dikaruniai kehidupan yang seru. Seru karena di usia muda ini diberikan hidup yang bisa belajar adaptasi dengan berbagai aspek dan kondisi --sebut dar der dor. Betapa bekerja di perusahaan ini membuatku belajar adaptasi untuk bisa dikirim kemanapun project berjalan dan gimanapun bentuk projectnya. Banyak hal yang dipelajari di 2025 terutama strategi politik dan "cara bermain" di lingkup orang atas. Sejak covid 2020, perusahaan memberlakukan remote working yang mana aku bebas kerja dimana aja. Aku memanfaatkan waktu ini sebaik-baiknya buat wara wiri ke berbagai tempat terutama absen ke rumah Jogja-Maja dan nggak lupa buat absen ke rumah keluarga di Bali. Berakhir kejebak di Bali selama 3 bulan karena lockdown adalah hal yang kusyukuri ahahaha. Pindah dari perusahaan ini di tahun 2022 awal membuatku kehilangan momen wara wiri tapi tetap tidak lepas dari syukur karena jadi bisa ngerasain hidup di sekitar Cilandak, Jakarta. Tahun 20...
Sudah hampir genap 3 tahun jadi pelari abal-abal alias atlet-atletan. Banyak yang aku sadari bahwa berlari bukan cuma sekedar cardio buat kaki dan jantung tapi juga cardio untuk hati dan mentalku. Mentalku dipacu sebegitu kencangnya sebagai obat atas semua hal-hal menyakitkan dalam hidupku. Ternyata aku enggak perlu psikolog --bukan karena suka mendiagnosa kondisi diri sendiri --karena aku selalu mencoba mengobati diri sendiri dulu sebelum pergi mencari obat di luar. Alasannya cukup simpel, karena biayanya paling murah dan ramah untuk diriku. Memulai lari setelah disakiti adalah keputusan terbaik dalam hidupku. Bukan tanpa alasan, lari adalah musuh terbesarku sejak kecil. Bukan cuma tidak berdamai dengannya, tapi sejak langkah pertama pun aku sudah kesakitan bukan main. Siapa sangka, di usia 26 tahun aku benar-benar berkawan dengan lari. Ternyata sakit saat langkah pertama lari tidak ada apa-apanya dibanding hati dan mentalku saat itu. Diterpa 2 kenyataan pahit ...