Teori bersyukur emang susah banget diimplementasikan. Namanya manusia, ada aja rasa kurang puasnya. Lawannya syukur ya kufur alias nafsu yang enggak bisa dikendaliin. Ujungnya orang-orang yang sudah dikendalikan sama nafsu ya jadi enggak tahu diri.
Padahal Tuhan udah punya rumus rezeki, kita enggak perlu nuntut segitunya. Tuhan udah paham banget soal seberapa banyak rezeki yang seharusnya kita dapat. Soalnya rumus rezeki enggak sesederhana usaha = rezeki, tapi mungkin di mix dengan ujian, di mix dengan kemampunan kita, di mix dengan kesabaran kita, dan di mix dengan perkara lain yang mana Tuhan lebih tahu.
Nuntut rezeki yang enggak kesampaian akhirnya bikin kita marah sama Tuhan. Ke belakangnya bisa banyak tuh, bisa merasa Tuhan enggak adil, bisa jadi clamitan ke orang lain, dan jahat sama orang lain.
Meski belum mapan secara finansial tapi kalau pikiran kita "terlalu matre" dan nuntut rezeki terus sebenarnya mental kita masih jauh dari rasa cukup dan rasa syukur. Padahal yang bikin rezeki terasa cukup ya rasa syukur itu sendiri. Matematikanya enggak akan ketemu kalau cuma dihitung pake angka, emang harus dimasukan bumbu syukur biar terasa cukup. Susah? jelas. Soalnya hadiahnya ketenangan hidup.
Ngomong-ngomong rezeki, ayo bahas soal duit. Duit itu algoritmanya juga susah ditebak. Kadang semakin diomongin, semakin terasa jauh karena pikiran kita cuma di situ-situ aja. Pasti pernah deh, ngitung duit tapi makin dihitung rasanya makin kurang. Begitu dijalanin ya cukup-cukup aja.
Stop jadi manusia yang celamitan ke Allah (in bad way), apalagi celamitan ke sesama manusia lainnya. Tahu enggak sih, kalau kita celamitan itu tanpa sadar apapun akan kita giring ke arah duit dan ketidaktahudirian. Bahayanya, diajak ngobrol apapun akan ujung-ujungnya duit. Ketika udah berlebihan, akan muncul tuh yang namanya enggak tahu diri. Apa-apa dihitung dan apa-apa nominal.
Stop jadi manusia yang isi otaknya cuma duit aja. Stop jadi manusia yang kalau diajak ngobrol ujungnya transaksional dan money oriented. Lawan biacara kita akan capek banget kalau digiringnya selalu ke arah duit. Semakin mengejar duit, duit semakin jauh. Believe it or not!
Itulah kenapa ada konsep sedekah. Semakin banyak yang dikeluarkan, kok semakin kaya?
Secara matematika enggak logis, tapi kejadian. Artinya, ketika kita mengeluarkan duit sesuai peruntukannya, itu enggak akan bikin kita jadi miskin. Semakin pelit, hitung-hitungan, dan keep duit buat diri sendiri, maka rasanya semakin kurang.
Alasan paling logis supaya kita enggak gampang hitung-hitungan adalah bahwa Tuhan juga enggak hitung-hitungan sama kita. Pasti banyak di lingkungan kita, orang-orang yang enggak hitung-hitungan juga sama kita. Mari mulai biasakan bertukar non-transactional value sehingga kita bisa mikir value selain duit. Aku yakin yang didapat akan jauh lebih banyak dan enggak bisa diukur pake duit.
Ilmu, kebaikan, manfaat, relasi, opportunity, keberlangsungan, dan lain sebagainya adalah hal yang enggak bisa diukur pake duit. Bukan berarti enggak ada nilainya, tapi karena nilainya lebih dari duit.

Komentar