Pasti kalian pernah denger kalimat “amanah tak pernah salah memilih pundak tuannya”. Berdasar orang-orang yang memiliki amanah dan survey kecil-kecilan yang aku lakukan bahwa kalimat itu sering kali menjadi senjata dan kekuatan bagi mereka untuk kuat dalam menjalankan amanahnya. Mereka meyakini bahwa segala beban-beban dalam kehidupan mereka itu sudah diatur oleh yang kuasa, mereka percaya bahwa mereka akan mendapatkan sesuatu hal yang mungkin tidak bisa orang lain dapatkan.
Saat
seseorang mendapatkan suatu amanah lalu dia menjalankannya dengan niat mencari
ridho yang kuasa, maka segala beban berat
di atas pundaknya akan dibantu diangkat alias berasanya enteng banget aja pas jalanin. Terdengar klise dan magis tapi kejadian beneran.
Amanah secara istilah
berarti jujur atau dapat dipercaya. Perilaku yang tetap dalam jiwa, dengannya seseorang
menjaga diri dari apa-apa yang bukan menjadi haknya walaupun terdapat kesempatan untuk
melakukannya.
Amanah itu ada banyak
jenisnya, mulai amanah kepada yang kuasa, kepada manusia dan kepada diri
sendiri. Zaman sekarang ini terutama kalau melihat bangsa Indonesia sendiri dan
kita runut ke atas, sebenernya yang bikin bangsa rusak itu ya karena para
pemimpin yang enggak amanah sama janjinya. Mereka enggak menjalankan
tugas mereka sesuai dengan amanah yang sudah melekat di pundaknya.
Perintah menjalankan amanah dalam Islam banyak diturunkan oleh Allah di Al-Quran, yang salah satunya di surat Al Mukminun; 8-10: “Dan orang-orang yang memelihara
amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya. dan orang-orang yang memelihara
shalatnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi” (QS.
Al-Mukminun: 8-10)
Rasul juga bersabda, “Tidak ada iman bagi yang tidak ada
amanah padanya (menjaga amanah) dan tidak ada agama bagi yang tidak ada
janjinya baginya (memenuhi janji)”. (HR Imam Ahmad)
Rasul sangat menjunjung
amanah, bahkan sampai dikatakannya bahwa tidak beriman lagi seseorang jika ia
tidak menjaga amanahnya. Kunci beragama adalah keyakinan. Keyakinan dalam
mampu menjalankan amanah beribadah kepada Tuhan. Bagaimana mungkin seseorang
yang beragama dapat ingkar terhadap sesuatu janji yang telah dibuatnya.
Ibnu
Mas’ud r.a. berkata: “Shalat adalah amanah, wudhu
adalah amanah, timbangan adalah amanah, takaran adalah amanah, dan banyak lagi.
Sedang amanah yang paling berat dari semua itu adalah barang-barang titipan.”
Rasul bersabda, “Empat hal, barang
siapa dalam dirinya ada empat hal tersebut, dia munafik murni, dan barang siapa
yang ada sebagian dari sifat itu, dia memiliki sebagian sifat nifak hingga dia
meninggalkannya. Yaitu: Jika dipercaya khianat, jika berbicara bohong, jika
berjanji ingkar dan jika bermusuhan (berseteru) dia jahat”. (HR. Bukhari Muslim)
Kenyataan menyedihkan bahwa
banyak di lingkungan kita yang masih menyepelekan amanah. Ada studi kasus yang
lucu, mereka-mereka yang sudah terlanjur meninggalkan amanah beberapa waktu
lamanya semakin tidak ingin kembali kepada amanahnya karena sudah terlanjur
merasa malu untuk kembali. Ironi memang bahwa malunya lebih besar daripada upaya memperbaiki amahnya.
Aku sendiri enggak pernah ingin mengintimidasi orang-orang yang mungkin belum mampu menjalankan amanah dengan baik, karena aku pribadi pun pasti pernah luput dari amanah.
Kalau udah terlanjur enggak amanah gimana?
Kalau memang amanah
itu sulit untuk dilakukan, paling tidak pamitlah ke mereka yang memang ditinggali amanah itu. Minimal gagah berani mengatakan untuk mundur dari amanah.
Tapi, kembali ke laptop!
Amanah itu sendiri sebenarnya enggak pernah salah milih pundak tuannya kok, jadi kalau kita terpilih dari sekian banyak orang yang dapat amanah, ya karena kita orang terpilih itu. Amanah paling tahu kok dia harus menopang pundak siapa.
Semoga setelah ini, kita termasuk dalam orang-orang yang mampu menjaga dan menjalankan amanah. Sehingga kita mampu menyelesaikan sesuatu yang sudah kita mulai sampe selesai ya.

Komentar