Ustad Rendy Saputra
Sumber gambar: Google
Sumber gambar: Google
Pagi ini beliau membawakan tema tentang “harapan”. Harapan itu
adalah sesuatu yang kita inginkan atau kita dapatkan. Beliau mengatakan energi
dari dunia ini menjadi besar dan maju karena ada orang-orang baik yang berharap
baik. Mengapa demikian? Coba saja jika tidak ada orang yang punya
harapan ingin dunia ini semakin maju dalam hal kedokteran, mungkin Ibu Sina, Abul Qasim Khalaf ibn al-Abbas az-Zahrawi dan
lainnya gak perlu repot-repot belajar untuk kemajuan dunia. Kita kerucutkan
lagi ke negara Indonesia, kalo eyang BJ Habibie gak punya harapan terhadap
Indonesia agar punya pesawat sendiri dan gak selalu pake produk luar negeri
mana mungkin beliau repot-repot penelitian untuk membuat pesawat. Orang-orang
yang bekerja bahkan sampai lembur jika tak punya harapan untuk memenuhi
kebutuhan hidup agar cukup juga gak mungkin rela-rela bekerja. Alasan kita
hidup adalah karena kita masih mau dan sanggup berharap.
Itulah kenapa orang-orang yang bunuh diri itu karena mereka sudah
tak punya harapan lagi untuk lingkungan dan terlebih untuk dirinya sendiri.
Lalu sebaik-baiknya harapan adalah harapan yang disandarkan kepada Allah.swt
dan yang diusahakan. Bagaimana mungkin sesuatu didapatkan tanpa adanya usaha?
Dunia sanggup berotasi dengan dinamis karena adanya orang-orang
baik yang memiliki harapan baik lalu melakukan kebaikan. Mereka semua saling mengisi untuk menuju harapan-harapan
baik tersebut. Nyatanya dampak dari harapan baik itu juga melahirkan hal-hal
yang baik pula, terlebih hal-hal itu bermanfaat bukan hanya untuk mereka yang
berharap baik namun juga untuk lingkungan sekitarnya. Bayangkan ketika semua
orang di dunia mau dan sanggup untuk berharap baik dan melakukan kebaikan.
Sanggup mengubur keegoisan masing-masing dan melakukan perubahan baik yang
dimulai dari masing-masing individunya. Bukankah dunia sangat mudah untuk
dihadapi dan dilewati?
Syelamat berharap hal-hal baik dan mulai mencoba melakukan
perubahan baik.
