Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2024

Suara Tubuh

Sudah seberapa egois ke badan sendiri?  Enggak banyak yang paham dan ngertiin diri sendiri ternyata. Bukan perkara apa yang bisa bikin kita bahagia tapi apa yang bikin kita bisa hidup dengan baik setiap harinya. Meskipun definisi hidup baik ya balik ke masing-masing individu ya. Tapi semua orang pasti setuju kalau kita pengen memanusiakan tubuh kita. Dia juga punya usia. Terhitung sejak kita lahir dan seiring nambahnya umur kita, umur tubuh kita juga bertambah alias masa hidupnya akan berkurang.  Sering banget kita abai sama tubuh kita, padahal tubuh kita bisa ngomong lho. Tubuh kita punya suara yang bisa kita dengar dari tanda-tanda yang dia kasih. Aku pribadi kadang pura-pura enggak denger dengan alasan mager.  Niat tubuh kita ngasih tanda ya enggak lain dan enggak bukan cuma untuk menyelamatkan kita dari sakit, tapi juga membuat kita bisa hidup dengan baik setiap harinya. Sudah pernah dengar suara tubuh belum?  Coba dengerin deh!  Misalnya saat...

Berjalan Pelan

24 Agustus 2024 adalah hari yang mungkin enggak bisa Aku lupain seumur hidup. Hari dimana semua duniaku melambat. Aku kecelakaan motor saat membonceng temanku. Dia patah di tangan siku kiri dan Aku patah di kaki kiri. Ada yang unik, temanku tidak bisa menekuk tangannya dan Aku tidak bisa meluruskan kakiku. Namanya fraktura tapi tidak seutuhnya patah. Mungkin bukan patah tapi potek. Wow tulang atau hati sih itu(?).  Poteknya kecil (wow songong), tapi sakitnya seakan patah terbelah dua. Lebay dikit tapi rasa sakitnya dalam arti yang sebenarnya. Duniaku melambat seketika di detik itu bahkan sampai tulisan ini selesai ditulis dan entah sampai kapan.  Kaki adalah organ paling merepotkan ketika sakit karena pekerjaanku menuntutku untuk keman kemon. Lalu, aku harus libur panjang untuk bisa keman kemon dengan syahdu. Dari yang bahkan enggak bisa duduk dengan tegak, kini Aku sudah bisa berjalan pincang. Serepot apa? enggak ada tandingannya. Ketika dokter spesialis ortope...

The Power of Nrimo Ing Pandum

Sedih banget denger berita angka bunuh diri usia muda semakin tinggi. BRIN bilang kalau penyebab bunuh diri terbanyak disebabkan karena mereka mendapat harapan tinggi dan kurangnya dukungan dari lingkungannya. Enggak  heran sih kenapa anak muda sekarang terkesan lebih ambis. Mungkin ambisnya karena tekanan dan harapan dari lingkungannya itu. Persaingan yang semakin ketat juga bikin kompetisi hidup makin tinggi.  Entah kenapa sebuah harapan jadi seakan punya dua mata pisau. Bisa jadi motivasi tapi juga bisa jadi alat bunuh diri. Kalau harapan itu bisa dipenuhi jelas happy , tapi kalau  enggak ? bisa mati.  Bahayanya ambis yang  enggak  dibarengi dengan keikhlasan nerima kenyataan ya depresi. Padahal di dalam kesuksesan  enggak  cuma berisi ambis/usaha, tapi ada keberuntungan dan rejeki yang polanya  enggak  bisa ditebak dan dipelajari. Akhirnya semua orang harus belajar menerima kenyataan. Entah harapan yang tidak tercapai terhadap diriny...