Langsung ke konten utama

Berjalan Pelan


24 Agustus 2024 adalah hari yang mungkin enggak bisa Aku lupain seumur hidup. Hari dimana semua duniaku melambat. Aku kecelakaan motor saat membonceng temanku. Dia patah di tangan siku kiri dan Aku patah di kaki kiri. Ada yang unik, temanku tidak bisa menekuk tangannya dan Aku tidak bisa meluruskan kakiku. Namanya fraktura tapi tidak seutuhnya patah. Mungkin bukan patah tapi potek. Wow tulang atau hati sih itu(?). 

Poteknya kecil (wow songong), tapi sakitnya seakan patah terbelah dua. Lebay dikit tapi rasa sakitnya dalam arti yang sebenarnya. Duniaku melambat seketika di detik itu bahkan sampai tulisan ini selesai ditulis dan entah sampai kapan. 

Kaki adalah organ paling merepotkan ketika sakit karena pekerjaanku menuntutku untuk keman kemon. Lalu, aku harus libur panjang untuk bisa keman kemon dengan syahdu. Dari yang bahkan enggak bisa duduk dengan tegak, kini Aku sudah bisa berjalan pincang. Serepot apa? enggak ada tandingannya.

Ketika dokter spesialis ortopedi pusing karena letak poteknya yang nyebelin di ujung tulang, pusat kekuatan tulang dan sendi untuk menopang betisku yang sebesar galon(?) itu. Bukan cuma potek, seluruh kekuatan kakiku hilang. Membuatku harus belajar keseimbangan dan kekuatan seakan-akan bayi yang baru mulai berlajar jalan dan sering jatuh sendiri.  

Aku yang terbiasa apa-apa sat set wat wet seketika harus melambat seperti Kukang, mungkin masih kalah cepet. Aku yang terbiasa jalan kaki untuk naik transportasi umum harus libur dulu. Iya libur, karena Aku yakin akan bisa lagi --hanya entah kapan. 

Setuju dengan pepatah "Kalau enggak bisa ambil untungnya, ya ambil hikmahnya"

Tapi lebih setuju lagi "Kalau bisa ambil hikmahnya, pasti ada untungnya". 

Aku mengambil hikmah yang enggak terhitung jumlahnya. Banyak yang Aku lihat ketika dunia melambat. Banyak yang Aku sadari ketika Aku menciptakan kecepatan baru di hidupku. Ternyata dunia selama ini memang enggak pernah ngebut, Aku yang terlalu sat set wat wet. Ternyata dunia enggak pernah kemana-mana. Dia menertawaiku yang kini bisa melihatnya lebih jelas dalam waktu yang lama. "Lagian dari kemarin ngebut terus sih" -- katanya.

Aku bisa memaknai setiap inci gerakanku. Aku jadi jarang banget lupa atau skip sesuatu. Aku jadi lebih prepare karena enggak mau kerepotan nantinya. Aku jadi bisa hidup slow living sesungguhnya. Aku jadi jarang berkeringat karena enggak grasak grusuk. Seru banget. Tapi enggak tahu akan tahan sampai kapan hahaha dan semoga tidak lama. 

Apakah kalau sehat walafiat akan tetap melambat? Enggak tahu. 

Apakah kalau sudah pulih sempurna akan grasak grusuk lagi? Enggak tahu. 

Biarlah kuputuskan besok. Jangan-jangan malah occational karena keduanya punya kenikmatan tersendiri. Mungkin kalau enggak begini, enggak akan tahu rasanya caranya berjalan pelan. Aku cuma tahu nge-rem tapi bukan berjalan pelan. Padahal keduanya berbeda. Mungkin angka kecepatannya sama, tapi rasa tubuhku berbeda. 

Ternyata pelan tapi terus berjalan itu bisa. Tidak perlu ngebut lalu ngerem. Tujuannya enggak akan pernah pindah, cuma kadang ego Kita aja yang enggak sabar. Sejujurnya, Aku menikmati pace ini. Aku cuma enggak tahan kerepotan. Aku suka serunya. Aku cuma enggak tahan sakit yang hilang timbulnya. Aku enggak tahan saat kedinginan atau kepanasan ekstrem, kakiku seperti di kotak es atau di dalam sauna. 

Tapi karena sudah kuputuskan untuk ambil hikmahnya supaya dapat untungnya. Akhirnya Aku merasa beruntung. Semua keluarga, saudara, kawan, teman, kolega, sampai client bisa mengerti. Mengerti bukan cuma memberi semangat untuk menerima cobaan dan doa kesembuhan tapi mengerti bahwa Aku akan menjadi pribadi yang baru. Pribadi yang lebih menikmati dunianya dengan sudut pandang baru (no more grasak grusuk). Sudut pandang yang dilihat jauh lebih lama karena Aku punya banyak waktu untuk melakukannya. Mereka mengizinkanku melakukannya. Salah satunya untuk stay bekerja di Bandung. Kata pimpinan di kantorku, supaya recoverynya cepat. Apakah Bandung berbanding lurus dengan kecepatan kesembuhan seseorang? 

Untuk case-ku mungkin iya. Aku bisa menjalani lambatku di kota yang lebih lambat dari Jakarta. Aku jadi tahu untuk tidak perlu terburu-buru (kecuali bagian kesembuhannya ya, kalau bisa ngebut).

Bergerak tidak perlu terburu-buru dan beraktivitas tidak perlu terburu-buru. Aku mendapat permakluman yang banyak dari orang lain. Aku jadi bisa duduk di bangku prioritas, Aku punya alasan workout dan latihan jalan pagi, driver ojol jadi tidak ngebut karena tahu bawa penumpang sakit, client jadi tidak nyebelin karena tahu Aku sakit, semua orang jadi ramah karena kepo sama kondisiku (dari tukang jualan sampe orang yang berpapasan denganku), Aku jadi bisa dapat prioritas kalau sedang antri makanan, dan yang paling seru dapat perlakuan act of service dijagain maksimal sama satpam saat naik turun tangga atau mau naik lift di suatu tempat. 

Seru tapi cukup sekali seumur hidup. Seru tapi kalau boleh meminta cukup sampai hari ini, sisanya boleh sehat terus saja? Terima kasih. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Amanah Tak Pernah Salah Memilih Pundak Tuannya

Pasti kalian pernah denger kalimat “amanah tak pernah salah memilih pundak tuannya”. Berdasar orang-orang yang memiliki amanah dan survey kecil-kecilan yang aku lakukan bahwa kalimat itu sering kali menjadi senjata dan kekuatan bagi mereka untuk kuat dalam menjalankan amanahnya. Mereka meyakini bahwa segala beban-beban dalam kehidupan mereka itu sudah diatur oleh yang kuasa, mereka percaya bahwa mereka akan mendapatkan sesuatu hal yang mungkin tidak bisa orang lain dapatkan.  Saat seseorang mendapatkan suatu amanah lalu dia menjalankannya dengan niat mencari ridho yang kuasa, maka segala beban berat di atas pundaknya akan dibantu diangkat alias berasanya enteng banget aja pas jalanin. Terdengar klise dan magis tapi kejadian beneran. Amanah secara istilah berarti jujur atau dapat dipercaya. P erilaku yang tetap dalam jiwa, dengannya seseorang menjaga diri dari apa-apa yang bukan menjadi haknya walaupun terdapat kesempatan untuk melakukannya.  Amanah itu ada banyak jeni...

Memangil Masa Lalu

"Masa lalu enggak usah diinget inget lagi. Jangan nengok ke belakang. Hidup itu harus ke depan"  Enggak sepenuhnya benar dan enggak sepenuhnya salah. Di dunia ini enggak ada yang absolut kok, semuanya tergantung. Bisa tergantung tujuannya, tergantung alasannya, tergantung peruntukannya, tergantung siap dan tidaknya, dan tergantung yang lainnya. Satu hal yang pasti, masa lalu juga bagian dari diri kita. Enggak bisa dihapus. Kalau dihapus ya berarti meniadakan keberadaaan kita di masa sekarang dan masa depan. Kita sudah terlanjur terbentuk oleh masa lalu.  Kalau sekiranya masa lalu sangat tidak perlu dikenang setiap saat, maka ia cuma perlu dibungkus rapi dan dibuka kembali saat kita siap atau bahkan tidak akan pernah dibuka lagi sama sekali sampai kapanpun. Your choice! Tapi aku ingin berbagi bagaimana caranya bersyukur dengan mudah. Enggak dipungkiri kita pasti sering banget kufur nikmat kan. Sering banget ngeluh seakan-akan Allah.swt jahat banget sama...

Kuliah Kerja Nyata (KKN)

Periode ini adalah Kuliah Kerja Nyata ke 55 Universitas Islam Indonesia 2017. Nah alhamdulillah banget dapat lokasi yang gak terlalu jauh banget dari Jogja yaitu di Dusun Kekoan Desa Pogalan Kecamatan Pakis Kabupaten Magelang Jawa Tengah. Kalo kalian tahu tempat wisata Top Selfie Pinus Kragilan, nah dusun kekoan ini berada di atas tepat dusun kragilan. Pengen cerita kalo KKN kali ini unitku yaitu unit 282 ada 9 orang yang menakjubkan, yang sampai sekarang selalu kusyukuri. 9 orang ini ada Mas Prasetyo Ardianto (Teknik Industri) dia ini kanit alias ketua unit yang uuuuhh wakaka gakusah dilanjutkan ya takut fitnah ah. Ketua unit ini parah banget jailnya tapi baiknya nggak usah ditanya ya. Ada Helmi Ilham Nugraha (Manajemen IP) hehe anak ini kocak, ya begitulah selalu bikin khawatir gara-gara dia sok sibuk banget karena kepilih jadi koordinator desa gitu deh, kadang suka lupa makan dan jiwanya akamsi hmmm anak kampung sini banget, kata warga dusun sini dia suruh nikah terus tinggal ...