Enggak ada angka usia yang pas untuk menikah, begitu juga enggak ada angka usia yang pas untuk memiliki anak karena pada dasarnya semua di luar kendali kita --manusia. Waktu yang pas ya ketika kemauan kita bertemu dengan ridho dari Tuhan.
Umur lewat quarter life crisis, menuju dan sampai lewat 30-an akhirnya jadi usia kesepian--menurut orang-orang yang mengalaminya. Usia kesepian adalah hal yang harus dihadapi dan dilewati oleh kaum single di usia ini.
Ironisnya, enggak semua orang bisa ngelewatin ini sendiri padahal harus dilewati sendiri. Terdengar menyedihkan memang tapi begitulah hidup sebagian orang di dunia. Enggak semua orang ketemu teman yang bisa menemani hidupnya di usia sebelum menuju kesepian.
Belajar melewati kesepian jadi tambahan kurikulum hidup buat orang-orang ini yang mana enggak ada panduan dan teorinya. Perihal rasa emang susah diteorikan soalnya teori yang terlalu "ndakik-ndakik" biasanya cuma mentok sampe teori, implementasinya? struggle abis.
Diri kita sebenarnya nurut banget sama otak dan hati kita. Semua bisa dikontrol selama itu diri kita. Jadi mindset "merasa" kesepian akan beneran terjadi sama orang-orang yang memantra-mantrai dirinya sebagai jiwa yang kesepian. Mereka yang mengglorifikasi dirinya tidak bisa melakukan apapun sendiri dan menghadapi keadaan apapun sendiri yang akhirnya kemakan sama kesendirian. Untuk bisa melawan itu, seseorang harus tahu risiko bahwa akan punya pemikiran keras dan perilaku keras sama diri sendiri. Ya there is always a risk in everythings right?
Untuk bisa keluar dari kenormalan hidup termasuk kenormalan rasa tentu kita harus ekstrem. Bertindak berlebih untuk melawan yang berarti harus keras kepada diri sendiri. Keras yang kayak apa sih yang dimaksud?
Keras ke diri sendiri enggak melulu melukai diri, apalagi kalau kita ngomong soal perasaan. Kita bisa bertindak ekstrem dengan melakukan kebalikannya, bukan dengan bertindak terhadap arti sebenarnya dari melukai itu sendiri. Bertindak kebalikannya adalah dengan percaya diri. Merasa diri super worth it untuk tidak melakukan hal-hal remeh bisa bikin kita enggak mudah mengglorifikasi perasaan semacam kesepian. Bukankah kesepian hanya bagi mereka yang punya waktu luang?
Sedangkan orang yang merasa enggak worth it untuk punya waktu luang tentu enggak akan punya waktu juga buat kesepian. Jangankan untuk kesepian, untuk luang aja merasa enggak worth it.
Tentu udah banyak yang nanya ke aku soal pernikahan. Apakah aku worry karena sudah masuk usia 29 dan sama sekali belum ada hilalnya? Mungkin ada worrynya tapi karena tidak diglorifikasi akhirnya redup sendiri.
Satu yang aku percayai dari janji Tuhanku adalah bahwa manusia yang lahir sudah bareng dengan rejeki, mati, dan jodohnya. Permasalahannya, enggak disebutkan secara eksplisit seberapa banyak rejekinya, kapan matinya dan dalam keadaan gimana, juga kapan jodohnya datang.
Jadi kalau bisa disimpulkan, semua orang punya rejeki, semua orang akan mati, dan semua orang punya jodoh. Fokus ke jodoh, karena dijanjikannya adalah punya jodoh tapi enggak dijanjiin akan menikah di dunia atau enggak. Logikanya bayi yang baru lahir lalu meninggal itu udah punya jodoh, sayangnya enggak punya kesempatan menikah di dunia. Barangkali, kita juga termasuk di antaranya-- yang tidak diizinkan menikah di dunia tapi masih diizinkan merasakan hidup di dunia.
Pemikiran ekstrem begini, justru bikin kita relaks menghadapi worst case di dunia. Bisa santai mikir permasalahan di dunia karena kita tahu keadilan dan semua hal yang kita mau akan bisa kita dapatkan di surga. Kalau nyendernya ke Tuhan, kalau pondasinya agama, aku rasa gak perlu worry soal apa yang di luar kontrol kita.
Ekstrem ke diri kita, bikin kita kebal sama ekstremnya dunia. Kelihatannya jahat ke diri sendiri, padahal sesungguhnya "ngenakin" diri sendiri karena tinggal nyender ke Tuhan. Intinya enggak perlu kuat terus, sesekali nyender juga boleh kok. Jam buka "pundak" Tuhan 24/7 buat kita.

Komentar