Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2017

Bahasa Manja

Kalian pernah gak atau mungkin ada gitu dilingkungan kalian yang mereka saat ngobrol dengan orang tuanya, baik Ibu atau Bapaknya menggunakan bahasa “Aku Kamu”? Dan menggunakan kata Dia untuk penyebutan orang ketiga. Dilingkunganku? Banyak. Kalo kalian begitu. Aku dengan tegas mengatakan kalian bukan orang yang asik. Apapun alasannya, pokoknya kalian gak asik.  Menurutku, gak asik aja menjadi anak yang tergerus tata kramanya hanya karena alasan “sekarang sudah bukan jamannya” sebab menurutku bahwa tata krama gak butuh modernisasi atau inovasi. Dari dulu ya begitu dan memang sudah seharusnya begitu. Bagiku, setiap anak, baik dia udah segede bahkan setua apapun dia tetap memiliki bahasa manja ke orang tuanya. Aku kurang  respect  dengan mereka yang menggunakan bahasa “Aku Kamu” kepada Ibu atau Bapakanya. Alasan paling klasik yang sering aku dengar adalah karena mereka menganggap orang tua mereka adalah teman.  Basic nya supaya gak kaku gitu ke...

Ikhlas Versi Super Duper Me!

  Novel Konspirasi Alam Semesta karya Fiersa Besari Sumber gambar: Google Bagi beberapa teman katanya aku adalah perpaduan dari bentuk bodoh dan baik. Sebab katanya bodoh dan baik itu beda tipis. Entah kusadari atau tidak kehidupanku sejak SD yang kebanyakan adalah terlalu “bersosial” mungkin itu yang menyebabkan sering mementingkan kepentingan orang lain dibandingkan diri sendiri (maap bukannya songong wakakaka) Menurut beberapa teman yang kusurvei dadakan. Hal itu baik dilakukan jika sesuai porsinya dan sampai sekarang ku masih belum paham soal porsi baik ke orang lain itu harus seberapa besar. Masa baik ke orang pake porsi ya? Masa baik ke orang harus ada batasannya? Aneh. Kebaikanku yang dilihat oleh teman teman diukur dari kadar keikhlasanku terhadap sesuatu hal. Bagi beberapa teman yang melihat bahwa kehidupanku katanya sering dikecewakan banyak pihak. Padahal bagi kita yang ngejalanin, kadar kecewa dan tidaknya seseorang diukur dari cara dia mengikhlaskan....

Novel Cover VS Film Cover

Cover asli Novel Perahu Kertas Kalo kalian pencinta buku, entah novel atau apapun yang berbau sastra gitu. Kalian pasti akan puas deh kalo bisa beli bukunya, iya memang dengan membacanya cukup. Tapi kalo aku pribadi akan lebih puas kalo punya bukunya. Merasa lebih menghargai sastra dengan membeli karya penulisnya aja gitu. Kita gak memungkiri ya sekarang ini banyak banget karya karya novel yang diangkat jadi film. Artinya dunia hiburan juga ikut mengapresiasi sastra. Rata-rata besar film yang dibuat berasal dari novel yang best seller sih ya. Kadang ada banyak anggapan dari netizen gitu soal pantas dan tidaknya, seru dan tidaknya jika sebuah novel diangkat jadi film. Mereka yang penggemar membaca banget kadang gak setuju dengan diangkatnya cerita novel jadi film karena merasa merusak originilitas dari novel tersebut, iya sih memang kadang cerita yang diangkat di film kayak berbeda aja dari cerita di novel. Karena memang kalo kita membaca dari novel langsung, akan lebih banya...

Bahasa Anak

Aku mau cerita soal kejadian dalam perjalananku dari Banten ke Yogyakarta di tanggal 7 November 2017. Waktu itu aku naik kereta api Progo di gerbong 7 kursi 15C. Buat informasi bahwa kursi 15 C adalah kursi yang paling gak enak dalam bentuk apapun. Bukan 15 nya sih, tapi huruf C-nya, karena kita bakal duduk gak deket jendela dan pinggir jalan banget (lorong kereta). Terlebih kereta api Progo memiliki model kursi 5 melintang, artinya di sisi satu berjumlah 3 orang dan di sisi lainnya berjumlah 2 orang. Owkey kalo yang berjumlah 2 masih luas dan setidaknya gak sumpek-sumpekan, nah kalo yang bertiga ini udah sumpek dan kalian harus membagi kursi buat yang duduk di tengah supaya bisa bergerak dan yang di deket jendela juga supaya gak terkesan di gencet wakaka. Owkey masuk cerita ya haha. Waktu itu yang duduk di sebelah aku adalah keluarga kecil dengan putra yang mungil mungkin sekitar umur 3 tahun, Dia memiliki orang tua yang menurut aku lumayan taat agama kalo dibandingkan dengan k...

Sastra Punya Etika

Belum lama ini, gue datang ke sebuah event sastra, gak perlu gue sebutkan namanya. Dalam acara tersebut ada mata acara musikalisasi puisi yang mana gue berharap dalam pelaksanaannya sangat mengagumkan dan surprisingly. Waktu itu hujan lebat, posisinya gue dan teman yang gue ajak menonton sedang mencari makan sore agar nantinya di acara tidak kelaparan. Saat hujan mulai reda barulah gue kembali ke acara untuk menyaksikan hal yang gue nantikan; pementasan musikalisasi puisi. Sampai di tempat gue terkejut, kebanyakan penonton yang datang adalah mereka yang "memiliki kriteria khusus", mohon maaf untuk penyebutan ini, mereka adalah para transgender, preman kalo gue sebut dan mereka memakai pakaian yang menurut gue kurang sopan, mereka yang dalam kelihatannya memiliki pergaulan yang bebas. Dalam pementasan seorang pengisi acara yang membacakan puisi, beliau menyampaikan bahwa beliau mengangkat suara dari para mantan narapidana agar kami para manusia sosial normal ti...

Aku. Tanpamu.

Tak usah membicarakan senja yang kemarin Semburatnya telah ditelan puncak gunung merbabu Kepada kamu Aku ingin berpamitan Meski hati dan jiwa masih tertuju kepadamu Jangan mencoba menjadi embun lagi Kini ia sudah tak sejuk seperti kemarin Jangan mencoba menjadi dermaga untukku berlabuh Karena nyatanya memang kau yang menjauh Lupakan soal langit dan awan Yang kita sering pandang bersama Karena realita berkata kau hanya memberi harapan Lalu pura-pura bahagia bersama Berhenti menjadi ilalang yang ingin dikenang Aku. Tanpamu. Sudah bahagia sekarang Untuk Ayu Yogya, 15 September 2017

Aku bingung

Mulanya kau datang Kepada hati kosong dan bimbang Memberi kesejukan siang dan malam Bercerita dan mencurahkan perhatian Saat sudah menjadi kebiasaan Kau hilang Meninggalkan bayangan Lalu datang bersama kebahagiaan Mengajakku berkenalan dengan yang katanya pujaan Kalau boleh mengingat kenangan Untuk apa harapan yang dulu kau berikan Jika akhirnya yang kudapat adalah kehampaan Kamu menyesatkan Untuk Ayu Yogya, 15 September 2017

Kuliah Kerja Nyata (KKN)

Periode ini adalah Kuliah Kerja Nyata ke 55 Universitas Islam Indonesia 2017. Nah alhamdulillah banget dapat lokasi yang gak terlalu jauh banget dari Jogja yaitu di Dusun Kekoan Desa Pogalan Kecamatan Pakis Kabupaten Magelang Jawa Tengah. Kalo kalian tahu tempat wisata Top Selfie Pinus Kragilan, nah dusun kekoan ini berada di atas tepat dusun kragilan. Pengen cerita kalo KKN kali ini unitku yaitu unit 282 ada 9 orang yang menakjubkan, yang sampai sekarang selalu kusyukuri. 9 orang ini ada Mas Prasetyo Ardianto (Teknik Industri) dia ini kanit alias ketua unit yang uuuuhh wakaka gakusah dilanjutkan ya takut fitnah ah. Ketua unit ini parah banget jailnya tapi baiknya nggak usah ditanya ya. Ada Helmi Ilham Nugraha (Manajemen IP) hehe anak ini kocak, ya begitulah selalu bikin khawatir gara-gara dia sok sibuk banget karena kepilih jadi koordinator desa gitu deh, kadang suka lupa makan dan jiwanya akamsi hmmm anak kampung sini banget, kata warga dusun sini dia suruh nikah terus tinggal ...

#KopiPakaiHati?

Waaaaa kangen nulis panjang ya Mau cerita (panjang) soal #KopiPakaiHati di akun twitter pribadi gue ya Jadi beberapa temen nanya #KopiPakaiHati itu apasih? Kenapa namanya #KopiPakaiHati? Kenapa isinya soal kopi dan galau-galau? Pernah ada tragedi apa sama kopi? Lintang bisa galau? Emangnya lintang punya pacar bisa galau? (yang ini langsung dijawab aja ya "Kok kepo sih wakaka" Jadi gini Jawaban ini gak sesuai sama nomor pertanyaannya ya tapi guea bakal cerita aja Gue suka kopi, segimana sukanya yaaa suka aja. Minum kopi itu asik. Gue bukan tipe yang suka pahit banget sih emang tapi gue suka kopi dengan gula sedikit aja (ya setengah sendok deh buat 1 gelas) Gaktau mulai kapan sukanya, yang jelas menemukan keasyikan aja kalo minum kopi. Ngerjain tugas sambil ngopi, denger radio sambil ngopi ya asyik aja gitu. Ini lebih ke feel sih ya, susah dijelaskan rasanya.  Terus apakah gue pernah galau, ya pernahlah. Siapa di dunia ini orang yang gak pernah galau....

Seputar 2016

Banyak banget yang nanya kenapa bisa buat puisi padahal gak ada bau-bau anak seni, turunan seni atau muka-muka seni wakaka. Lebih parah dari itu, bisa buat puisi galau padahal belum pernah pacaran atau galau-galau semacamnya soal cinta.  Pertama, karena seni bukan soal keturunan atau muka-muka seni yang harus gondrong dan sebagainya. Pujangga nggak selamanya dengan penampilan ala-ala gembelnya. Pujangga juga bisa rapi kok, ya kalo jarang mandi emang sih ya.  Jadi pernah dapet nasihat dari salah satu sastrawan kalau kunci dari seni terutama buat puisi adalah rajin membaca, jangan pilih-pilih kalo membaca karena ide bisa datang dari segala hal yang kamu baca.  Membuat puisi bukan cuman harus rajin baca puisi karya orang tapi bacalah apapun itu, karena seni kata-kata atau kalimat seni gak cuman dihadirkan dalam bentuk puisi. Menurutku, kalimat kritikan, pujian, caci-maki dan sebagainya itu bisa jadi kalimat seni yang bisa kita adaptasi dan menjadi ide dalam membuat puisi. Ak...