Langsung ke konten utama

Novel Cover VS Film Cover

Cover asli Novel Perahu Kertas

Kalo kalian pencinta buku, entah novel atau apapun yang berbau sastra gitu. Kalian pasti akan puas deh kalo bisa beli bukunya, iya memang dengan membacanya cukup. Tapi kalo aku pribadi akan lebih puas kalo punya bukunya. Merasa lebih menghargai sastra dengan membeli karya penulisnya aja gitu.

Kita gak memungkiri ya sekarang ini banyak banget karya karya novel yang diangkat jadi film. Artinya dunia hiburan juga ikut mengapresiasi sastra. Rata-rata besar film yang dibuat berasal dari novel yang best seller sih ya. Kadang ada banyak anggapan dari netizen gitu soal pantas dan tidaknya, seru dan tidaknya jika sebuah novel diangkat jadi film. Mereka yang penggemar membaca banget kadang gak setuju dengan diangkatnya cerita novel jadi film karena merasa merusak originilitas dari novel tersebut, iya sih memang kadang cerita yang diangkat di film kayak berbeda aja dari cerita di novel. Karena memang kalo kita membaca dari novel langsung, akan lebih banyak imaginasi yang ditangkap orang, sehingga lebih memberi kebebasan kepada pembaca untuk merimajinasi sesuai dengan cerita di novel. Berbeda dengan ketika menonton film, seolah pembaca dipaksa untuk merimajinasi demikian sesuai di film ya.

Kalo mereka kebanyakan menyoroti soal cerita dari novel yang di filmkan. Aku lebih tertarik membahas soal sampul novelnya. Jadi di sini aku akan bahas soal novel-novel yang diangkat menjadi novel lalu cover novel di cetakan berikutnya mengikuti cover promo filmnya. Aku kasih contoh kayak Critical Eleven karya Ika Natassa, Perahu Kertas karya Dee Lestari, Hujan Bulan Juni karya Sapardi Djoko Damono, Surga Yang Tak Dirindukan karya Asma Nadia dan sebagainya. Novel-novel di cetakan berikutnya pada contoh contoh di atas mengikuti cover novelnya. Jadi ada gambar artis dalam covernya. Kadang aku harus berusaha banget cari novel di cetakan aslinya misal sudah terlambat sejak terbitan pertama karena dasarnya aku merasa gak puas ketika beli novel dengan cover yang diadaptasi dari cover film.


 Cover setelah dibuat film Perahu Kertas
Sumber: Google

Beberapa orang termasuk aku lebih bahagia dan puas ketika membeli novel dengan cover original bukunya, artinya tidak ada wajah wajah artis indonesia yang berperan sebagai tokoh dalam film tersebut. Kesannya akan menjadikan novel tidak original dan hanya untuk promosi film semata. Aku sebagai penggemar buku yang bukan berarti juga tidak menyukai film, tidak setuju soal cover novel yang dirubah sesuai dengan cover film atau yang bergambar pemeran dalam filmnya karena beberapa orang cenderung menyukai hal klasik yang artinya cover novel ya harus sesuai dengan cover originalnya, hal itu akan lebih memuaskan para pembaca. Kesan klasik dan originalitas novel akan tetap terjaga ketika penulis tetap mempertahankan cover novel sesuai aslinya dan tidak diadaptasi dari cover film. Karena ada pembatas antara cerita novel asli dengan cerita dalam film. Pembaca novel yang menonton film akan dapat membedakan dari sudut pandang pribadinya, bahwa ada hal klasik dalam novel dan hal klasik dalam film yang sulit untuk disamakan.

Hal klasik tersebut aku kira tidak akan merugikan salah satu pihak, baik penulis maupun tim film ya karena kedua hal tersebut memang memiliki nilai yang berbeda. Seorang pembaca novel tetap akan penasaran dan menonton filmnya lalu menyikapi kedua hal tersebut dalam sudut pandangnya yang berbeda dan aku kira penggemar film pun jika film itu diangkat dari novel yang luar biasa bagus dan dia ingin mengetahui novel aslinya juga tetap akan membeli dan membaca. Jadi aku kira, penulis perlu memberi ruang bagi kami pembaca dan penonton film untuk bebas memandang dua cerita ini, meskipun cerita dalam film benar-benar sama sesuai dengan sudut pandang penulis tapi aku kira masing-masing pembaca tetap memiliki sudut pandangnya masing-masing saat membaca dan menonton film.

Pesan aku bagi para penulis adalah beri kami para pembaca dan penonton untuk bebas merimajinasi sesuai alur cerita yang dibuat. Dengan tetap mempertahankan cover original novel dan tidak diadaptasi dari cover film akan membuat masing-masing pembaca mampu menjembatani sendiri cerita dari kedua hal tersebut. Terima kasih.

Postingan populer dari blog ini

Amanah Tak Pernah Salah Memilih Pundak Tuannya

Pasti kalian pernah denger kalimat “amanah tak pernah salah memilih pundak tuannya”. Berdasar orang-orang yang memiliki amanah dan survey kecil-kecilan yang aku lakukan bahwa kalimat itu sering kali menjadi senjata dan kekuatan bagi mereka untuk kuat dalam menjalankan amanahnya. Mereka meyakini bahwa segala beban-beban dalam kehidupan mereka itu sudah diatur oleh yang kuasa, mereka percaya bahwa mereka akan mendapatkan sesuatu hal yang mungkin tidak bisa orang lain dapatkan.  Saat seseorang mendapatkan suatu amanah lalu dia menjalankannya dengan niat mencari ridho yang kuasa, maka segala beban berat di atas pundaknya akan dibantu diangkat alias berasanya enteng banget aja pas jalanin. Terdengar klise dan magis tapi kejadian beneran. Amanah secara istilah berarti jujur atau dapat dipercaya. P erilaku yang tetap dalam jiwa, dengannya seseorang menjaga diri dari apa-apa yang bukan menjadi haknya walaupun terdapat kesempatan untuk melakukannya.  Amanah itu ada banyak jeni...

Memangil Masa Lalu

"Masa lalu enggak usah diinget inget lagi. Jangan nengok ke belakang. Hidup itu harus ke depan"  Enggak sepenuhnya benar dan enggak sepenuhnya salah. Di dunia ini enggak ada yang absolut kok, semuanya tergantung. Bisa tergantung tujuannya, tergantung alasannya, tergantung peruntukannya, tergantung siap dan tidaknya, dan tergantung yang lainnya. Satu hal yang pasti, masa lalu juga bagian dari diri kita. Enggak bisa dihapus. Kalau dihapus ya berarti meniadakan keberadaaan kita di masa sekarang dan masa depan. Kita sudah terlanjur terbentuk oleh masa lalu.  Kalau sekiranya masa lalu sangat tidak perlu dikenang setiap saat, maka ia cuma perlu dibungkus rapi dan dibuka kembali saat kita siap atau bahkan tidak akan pernah dibuka lagi sama sekali sampai kapanpun. Your choice! Tapi aku ingin berbagi bagaimana caranya bersyukur dengan mudah. Enggak dipungkiri kita pasti sering banget kufur nikmat kan. Sering banget ngeluh seakan-akan Allah.swt jahat banget sama...

Kuliah Kerja Nyata (KKN)

Periode ini adalah Kuliah Kerja Nyata ke 55 Universitas Islam Indonesia 2017. Nah alhamdulillah banget dapat lokasi yang gak terlalu jauh banget dari Jogja yaitu di Dusun Kekoan Desa Pogalan Kecamatan Pakis Kabupaten Magelang Jawa Tengah. Kalo kalian tahu tempat wisata Top Selfie Pinus Kragilan, nah dusun kekoan ini berada di atas tepat dusun kragilan. Pengen cerita kalo KKN kali ini unitku yaitu unit 282 ada 9 orang yang menakjubkan, yang sampai sekarang selalu kusyukuri. 9 orang ini ada Mas Prasetyo Ardianto (Teknik Industri) dia ini kanit alias ketua unit yang uuuuhh wakaka gakusah dilanjutkan ya takut fitnah ah. Ketua unit ini parah banget jailnya tapi baiknya nggak usah ditanya ya. Ada Helmi Ilham Nugraha (Manajemen IP) hehe anak ini kocak, ya begitulah selalu bikin khawatir gara-gara dia sok sibuk banget karena kepilih jadi koordinator desa gitu deh, kadang suka lupa makan dan jiwanya akamsi hmmm anak kampung sini banget, kata warga dusun sini dia suruh nikah terus tinggal ...