Langsung ke konten utama

Bahasa Anak

Aku mau cerita soal kejadian dalam perjalananku dari Banten ke Yogyakarta di tanggal 7 November 2017. Waktu itu aku naik kereta api Progo di gerbong 7 kursi 15C. Buat informasi bahwa kursi 15 C adalah kursi yang paling gak enak dalam bentuk apapun. Bukan 15 nya sih, tapi huruf C-nya, karena kita bakal duduk gak deket jendela dan pinggir jalan banget (lorong kereta). Terlebih kereta api Progo memiliki model kursi 5 melintang, artinya di sisi satu berjumlah 3 orang dan di sisi lainnya berjumlah 2 orang. Owkey kalo yang berjumlah 2 masih luas dan setidaknya gak sumpek-sumpekan, nah kalo yang bertiga ini udah sumpek dan kalian harus membagi kursi buat yang duduk di tengah supaya bisa bergerak dan yang di deket jendela juga supaya gak terkesan di gencet wakaka.

Owkey masuk cerita ya haha. Waktu itu yang duduk di sebelah aku adalah keluarga kecil dengan putra yang mungil mungkin sekitar umur 3 tahun, Dia memiliki orang tua yang menurut aku lumayan taat agama kalo dibandingkan dengan kebanyakan keluarga normal lainnya (aku melihat itu dari bentuk pakaian sang ibu sih ya, walaupun memang kita gakbisa melihat hanya dari luarnya saja hehe).

Putra mereka memang aktif, banyak bertanya karena mungkin jarang naik kereta mengingat umurnya yang baru mengerti kalo itu kereta atau bahkan anak ini baru pertama kali naik kereta, jadi di setiap stasiun pemberhentian kereta dia selalu bilang "Bunda, udah sampe keretanya bunda?" "Bunda, ayo turun" dan kalimat setipe itu selalu dia ulang-ulang, aku sebagai anak muda, owkey aku belum pernah merasakan punya anak tapi aku suka dengan anak seperti ini, entah kenapa, aku menganggap bahwa dia smart.

Waktu itu sudah jam 8 malam dan sang anak belum menunjukan tanda-tanda ngantuk, kejadian sang anak terus berbicara dan "teriak-teriak" karena excitednya dia terhadap kereta dia luapkan lewat omongan dia terhadap dirinya sendiri. Dia terus ngoceh (bukan yang kayak orang gila ya) sampai pukul setengah 10 malam bahkan jam 1 dini hari.

Kejadian ini dimulai saat sang anak sudah tak nyaman duduk lama, karena dia memang dipangku oleh bundanya. Anak mulai rewel karena ingin turun dari kereta (tapi gak nangis). Inilah yang membuat aku ingin bercerita ini, saat itu sang bunda mulai menanggapi ocehan sang anak dengan bahasa yang menurut aku bukan bahasa anak seperti sebelumnya (mungkin karena ngantuk dan capek ya bundanya ini). Bundanya menanggapi dengan kalimat kalimat yang menurutku sangat tidak patut disebutkan di depan anak seusia dia. "Eh tidur kek lu, udah jam segini juga masih melek mulu, bikin capek aja" "Lu mau tidur gak sih" "Eh kurang ajar emang jam segini gak merem merem ini anak" "Tidur gak lu" "Capek guwe yah sama ni anak" "Jangan bikin repot kek, tidur cepet" (memang mengatakannya tidak dengan teriak, namun dalam nada yang menghujam)

Aku menggaris bawahi masalah ini bahwa anak memiliki bahasa yang sesuai dengan usianya. Anak usia 3 tahun yang menurut buku yang aku baca adalah masa keemasan dalam pertumbuhan otak dan daya tahan tubuh, bagi aku sangat tidak pantas jika diperdengarkan dengan kalimat-kalimat demikian terlebih kalimat yang diucapkan oleh bundanya, yang menjadi pedoman dalam melakukan apapun yang dia lihat pertama kali. Bagiku, sang bunda juga merupakan orang yang terlihat taat agama, yang aku kira dapat berkata lebih lembut dari aku pribadi, bahkan sangat lembut kalo dalam persepsiku. Khimar yang besar sempurna menutup dada menjadi persepsi bagi banyak orang terutama aku yang sangat jauh dari kesempurnaan agama bahwa dia dapat mencerminkan ajaran agama soal mendidik anak. Terlebih mendidik anak di area umum seperti dalam kereta. Owkey kita memang tak boleh beranggapan dengan khimar besar lalu sempurna akhlaknya, bukan itu yang aku garis bawahi. Namun perlakuan seorang ibu ke anak mau dia mengenakan khimar atau gak. Setiap ibu memiliki bahasa yang seahrusnya khusus bagi masing-masing anaknya dengan bahasa apapun namun bukan seperti cerita di atas.

Aku harap siapapun yang membaca cerita ini. Belum, akan dan sudah menjadi orang tua terutama ibu. Ayo kita banyak baca, banyak cari referensi cara mendidik anak jika belum tahu. Lebih baik susah, capek dan belajar terus daripada kita dimintai pertanggungjawaban oleh Tuhan atas titipan itu. Anak selalu mencontoh orang tuanya untuk pertama kali, bagaimanapun bentuk orang tuanya karena dia belum tahu mana yang benar dan salah saat diusia keemasannya.

Btw ini kok udah bahas soal anak aja ya, padahal jodohnya juga belum keliatan. Yaudah gakpapa, namanya juga buat bekal hehe.
Syemangat menjadi orang tua dan contoh yang baik bagi anak yaw!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Amanah Tak Pernah Salah Memilih Pundak Tuannya

Pasti kalian pernah denger kalimat “amanah tak pernah salah memilih pundak tuannya”. Berdasar orang-orang yang memiliki amanah dan survey kecil-kecilan yang aku lakukan bahwa kalimat itu sering kali menjadi senjata dan kekuatan bagi mereka untuk kuat dalam menjalankan amanahnya. Mereka meyakini bahwa segala beban-beban dalam kehidupan mereka itu sudah diatur oleh yang kuasa, mereka percaya bahwa mereka akan mendapatkan sesuatu hal yang mungkin tidak bisa orang lain dapatkan.  Saat seseorang mendapatkan suatu amanah lalu dia menjalankannya dengan niat mencari ridho yang kuasa, maka segala beban berat di atas pundaknya akan dibantu diangkat alias berasanya enteng banget aja pas jalanin. Terdengar klise dan magis tapi kejadian beneran. Amanah secara istilah berarti jujur atau dapat dipercaya. P erilaku yang tetap dalam jiwa, dengannya seseorang menjaga diri dari apa-apa yang bukan menjadi haknya walaupun terdapat kesempatan untuk melakukannya.  Amanah itu ada banyak jeni...

Memangil Masa Lalu

"Masa lalu enggak usah diinget inget lagi. Jangan nengok ke belakang. Hidup itu harus ke depan"  Enggak sepenuhnya benar dan enggak sepenuhnya salah. Di dunia ini enggak ada yang absolut kok, semuanya tergantung. Bisa tergantung tujuannya, tergantung alasannya, tergantung peruntukannya, tergantung siap dan tidaknya, dan tergantung yang lainnya. Satu hal yang pasti, masa lalu juga bagian dari diri kita. Enggak bisa dihapus. Kalau dihapus ya berarti meniadakan keberadaaan kita di masa sekarang dan masa depan. Kita sudah terlanjur terbentuk oleh masa lalu.  Kalau sekiranya masa lalu sangat tidak perlu dikenang setiap saat, maka ia cuma perlu dibungkus rapi dan dibuka kembali saat kita siap atau bahkan tidak akan pernah dibuka lagi sama sekali sampai kapanpun. Your choice! Tapi aku ingin berbagi bagaimana caranya bersyukur dengan mudah. Enggak dipungkiri kita pasti sering banget kufur nikmat kan. Sering banget ngeluh seakan-akan Allah.swt jahat banget sama...

Kuliah Kerja Nyata (KKN)

Periode ini adalah Kuliah Kerja Nyata ke 55 Universitas Islam Indonesia 2017. Nah alhamdulillah banget dapat lokasi yang gak terlalu jauh banget dari Jogja yaitu di Dusun Kekoan Desa Pogalan Kecamatan Pakis Kabupaten Magelang Jawa Tengah. Kalo kalian tahu tempat wisata Top Selfie Pinus Kragilan, nah dusun kekoan ini berada di atas tepat dusun kragilan. Pengen cerita kalo KKN kali ini unitku yaitu unit 282 ada 9 orang yang menakjubkan, yang sampai sekarang selalu kusyukuri. 9 orang ini ada Mas Prasetyo Ardianto (Teknik Industri) dia ini kanit alias ketua unit yang uuuuhh wakaka gakusah dilanjutkan ya takut fitnah ah. Ketua unit ini parah banget jailnya tapi baiknya nggak usah ditanya ya. Ada Helmi Ilham Nugraha (Manajemen IP) hehe anak ini kocak, ya begitulah selalu bikin khawatir gara-gara dia sok sibuk banget karena kepilih jadi koordinator desa gitu deh, kadang suka lupa makan dan jiwanya akamsi hmmm anak kampung sini banget, kata warga dusun sini dia suruh nikah terus tinggal ...