Langsung ke konten utama

Sastra Punya Etika

Belum lama ini, gue datang ke sebuah event sastra, gak perlu gue sebutkan namanya. Dalam acara tersebut ada mata acara musikalisasi puisi yang mana gue berharap dalam pelaksanaannya sangat mengagumkan dan surprisingly.

Waktu itu hujan lebat, posisinya gue dan teman yang gue ajak menonton sedang mencari makan sore agar nantinya di acara tidak kelaparan. Saat hujan mulai reda barulah gue kembali ke acara untuk menyaksikan hal yang gue nantikan; pementasan musikalisasi puisi.

Sampai di tempat gue terkejut, kebanyakan penonton yang datang adalah mereka yang "memiliki kriteria khusus", mohon maaf untuk penyebutan ini, mereka adalah para transgender, preman kalo gue sebut dan mereka memakai pakaian yang menurut gue kurang sopan, mereka yang dalam kelihatannya memiliki pergaulan yang bebas.

Dalam pementasan seorang pengisi acara yang membacakan puisi, beliau menyampaikan bahwa beliau mengangkat suara dari para mantan narapidana agar kami para manusia sosial normal tidak memicingkan sebelah matanya kepada mereka. Karena pada praktiknya mereka juga bekarya dalam jeruji penjara. Bahwa realitanya banyak penyair besar Indonesia bahkan dunia yang besar dari jeruji penjara. Tapi apakah untuk menjadi penyair besar harus dari jeruji penjara?, harus nakal dulu baru terkenal?

Pada tulisan kali ini gue ingin menyampaikan pendapat gue mengenai hal di atas. 
Tentu saja kita tak memungkiri seseorang yang pernah berada atau bahkan kini berada dalam jeruji penjara bukan total kesalahan mereka, bisa jadi karena khilaf, atau dijebak oleh hukum politik dan sebagainya, artinya kita juga tak bisa menyalahkan hanya dari sisi seseorang yang berada dalam jeruji penjara. Tapi apakah itu yang menjadi sorotan dunia? Apakah pernah disorot oleh dunia bahwa penyair X mantan narapidana membuat karya besar? Bahkan ada etika ketika menyampaikan pujian kepada orang lain, kita tak bisa mencampuradukan pujian dan hinaan. 

Bahwa kami manusia sosial normal pencinta sastra, pengagum dan yang menghargai sastra tak melihat latar belakang seorang penyair darimana asalnya, ketika karyanya mampu membius penikmat sastra maka yasudah. Tak perlu diperdebatkan. 

Bagi gue sastra tak melihat dari sudut mana ia berasal, tapi bagaimana ia mampu menyebarkan hal dan energi positif kepada halayak banyak. 
Dengan keadaan suasana acara kemarin,  membuat orang yang tak mengenal sastra semakin memicingkan mata kepada sastra, bahwa sastra identik dengan arogan, nakal, kebebasan tak beraturan, sesuai ego masing-masing dan hal hal buruk lainnya. 

Gue di sini dengan tegas mengatakan bahwa sastra tak selalu harus bermula dari kenakalan remaja lalu mereka membuat puisi dan membacakannya dengan gaya nakal mereka, dengan masa lalu mereka lalu mereka meneriakan kebebasan yang mereka dambakan di depan banyak orang. Sastra bukan demikian. Sastra adalah kebebasan, tapi masih ada tanda kurung dalam hal itu, kebebasan seperti apa yang dimaksud sastra, apakah kebebasan tak patuh kepada orang tua?, kebebasan mengatur hidup sendiri ketika belum cukup mampu untuk mengaturnya sendiri?, kebebasan menghina orang lain karena mereka sebut bahwa negara ini negara demokrasi?

Bagi gue sastra memiliki sopan santun. Bukan karena sastra tidak mendukung bentuk kebebasan, tapi karena sastra punya etika. Etika dalam berkehidupan bahwa sastra mampu hormat kepada orang tua, mampu menghargai orang lain, mengkritik dengan aturan yang ada, tidak arogan dan tahu tata krama. 

Bagi gue berkarya tak harus dimulai dari nakal, dalam tulisan ini gue mengajak seluruh pembaca untuk menuangkan ide nakalnya dalam karya. Nakal dalam karya adalah bahwa kenakalan yang dimaksud ditujukan untuk membela hak hak yang perlu dibela, untuk menunjukan pada dunia bahwa sastra kuat untuk menyatukan seluruh elemen, bahwa sastra mampu berdiri di atas seluruh ras dan golongan sesuai etika. 

Bukan sebagai sastra yang dianggap berisi orang orang bebas tak beraturan. 
Mari berkarya:)



[Sleman, Yogyakarta]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Amanah Tak Pernah Salah Memilih Pundak Tuannya

Pasti kalian pernah denger kalimat “amanah tak pernah salah memilih pundak tuannya”. Berdasar orang-orang yang memiliki amanah dan survey kecil-kecilan yang aku lakukan bahwa kalimat itu sering kali menjadi senjata dan kekuatan bagi mereka untuk kuat dalam menjalankan amanahnya. Mereka meyakini bahwa segala beban-beban dalam kehidupan mereka itu sudah diatur oleh yang kuasa, mereka percaya bahwa mereka akan mendapatkan sesuatu hal yang mungkin tidak bisa orang lain dapatkan.  Saat seseorang mendapatkan suatu amanah lalu dia menjalankannya dengan niat mencari ridho yang kuasa, maka segala beban berat di atas pundaknya akan dibantu diangkat alias berasanya enteng banget aja pas jalanin. Terdengar klise dan magis tapi kejadian beneran. Amanah secara istilah berarti jujur atau dapat dipercaya. P erilaku yang tetap dalam jiwa, dengannya seseorang menjaga diri dari apa-apa yang bukan menjadi haknya walaupun terdapat kesempatan untuk melakukannya.  Amanah itu ada banyak jeni...

Memangil Masa Lalu

"Masa lalu enggak usah diinget inget lagi. Jangan nengok ke belakang. Hidup itu harus ke depan"  Enggak sepenuhnya benar dan enggak sepenuhnya salah. Di dunia ini enggak ada yang absolut kok, semuanya tergantung. Bisa tergantung tujuannya, tergantung alasannya, tergantung peruntukannya, tergantung siap dan tidaknya, dan tergantung yang lainnya. Satu hal yang pasti, masa lalu juga bagian dari diri kita. Enggak bisa dihapus. Kalau dihapus ya berarti meniadakan keberadaaan kita di masa sekarang dan masa depan. Kita sudah terlanjur terbentuk oleh masa lalu.  Kalau sekiranya masa lalu sangat tidak perlu dikenang setiap saat, maka ia cuma perlu dibungkus rapi dan dibuka kembali saat kita siap atau bahkan tidak akan pernah dibuka lagi sama sekali sampai kapanpun. Your choice! Tapi aku ingin berbagi bagaimana caranya bersyukur dengan mudah. Enggak dipungkiri kita pasti sering banget kufur nikmat kan. Sering banget ngeluh seakan-akan Allah.swt jahat banget sama...

Kuliah Kerja Nyata (KKN)

Periode ini adalah Kuliah Kerja Nyata ke 55 Universitas Islam Indonesia 2017. Nah alhamdulillah banget dapat lokasi yang gak terlalu jauh banget dari Jogja yaitu di Dusun Kekoan Desa Pogalan Kecamatan Pakis Kabupaten Magelang Jawa Tengah. Kalo kalian tahu tempat wisata Top Selfie Pinus Kragilan, nah dusun kekoan ini berada di atas tepat dusun kragilan. Pengen cerita kalo KKN kali ini unitku yaitu unit 282 ada 9 orang yang menakjubkan, yang sampai sekarang selalu kusyukuri. 9 orang ini ada Mas Prasetyo Ardianto (Teknik Industri) dia ini kanit alias ketua unit yang uuuuhh wakaka gakusah dilanjutkan ya takut fitnah ah. Ketua unit ini parah banget jailnya tapi baiknya nggak usah ditanya ya. Ada Helmi Ilham Nugraha (Manajemen IP) hehe anak ini kocak, ya begitulah selalu bikin khawatir gara-gara dia sok sibuk banget karena kepilih jadi koordinator desa gitu deh, kadang suka lupa makan dan jiwanya akamsi hmmm anak kampung sini banget, kata warga dusun sini dia suruh nikah terus tinggal ...