Langsung ke konten utama

Pelari Yang Tak Pernah Mengejar Garis Finish

 


Sudah hampir genap 3 tahun jadi pelari abal-abal alias atlet-atletan. Banyak yang aku sadari bahwa berlari bukan cuma sekedar cardio buat kaki dan jantung tapi juga cardio untuk hati dan mentalku. Mentalku dipacu sebegitu kencangnya sebagai obat atas semua hal-hal menyakitkan dalam hidupku. 

Ternyata aku enggak perlu psikolog --bukan karena suka mendiagnosa kondisi diri sendiri --karena aku selalu mencoba mengobati diri sendiri dulu sebelum pergi mencari obat di luar. Alasannya cukup simpel, karena biayanya paling murah dan ramah untuk diriku. 

Memulai lari setelah disakiti adalah keputusan terbaik dalam hidupku. Bukan tanpa alasan, lari adalah musuh terbesarku sejak kecil. Bukan cuma tidak berdamai dengannya, tapi sejak langkah pertama pun aku sudah kesakitan bukan main. 

Siapa sangka, di usia 26 tahun aku benar-benar berkawan dengan lari. Ternyata sakit saat langkah pertama lari tidak ada apa-apanya dibanding hati dan mentalku saat itu. Diterpa 2 kenyataan pahit tak berselang lama perihal karir (mental) dan asmara (hati) benar-benar terasa habis tak bersisa. 

Sejak pertama kali melangkah untuk berlari, aku tidak pernah mengejar garis finish. Mungkin karena sejak awalpun aku tidak sebegitu ambisnya. Sejak awal aku berlari hanya untuk kesembuhan hati dan mentalku, maka perihal hati dan mental pun aku tidak sebegitu ambisnya. Sangat tahu bahwa risikonya Allahuakbar. 

Tahu betul, maksimal terhadap sesuatu bukan buatku. Sejak awal kehidupan aku selalu nomor dua. Bukan karena tak layak menjadi yang pertama, tapi karena aku sadar posisi atas garis yang sudah Allah.swt arahkan. Sekalinya memaksa menjadi yang pertama ujungnya selalu lara. Entah di karir, asmara, dan semesta lainnya. 

Sejak 2018 menargetkan karir segimana pun atau mengagumi seseorang pun yakin tak akan menjadi pertamanya. Aku selalu menjadi nomor dua dalam apapun selama ini. Akan ada giliranku menjadi yang pertama --besok. Pasti ada kan. Cuma belum saja. Oh atau mungkin tetap menjadi nomor dua sebab pertama dan keduanya pun aku. Konsepnya rapel. 

Maka dalam berlari pun bukan garis finish ujungnya, tapi selalu setelahnya. Sebab kalau targetku sebelum garis finish, aku akan kalah. Tapi kalau setelahnya, aku pasti melewati garis finishnya. Boleh jadi aku menjadi yang kedua, tapi targetku dengan sang juara tentu berbeda. 

Aku mungkin belum pernah jadi yang pertama, tapi dengan menargetkan sesuatu melebihi dari yang seharusnya, aku tidak tertinggal oleh apapun. Bukan cuma oleh orang lain tapi oleh rasa sakitku itu sendiri. Aku akan melampaui sakitnya. 

Kalau garis finish adalah puncak kesembuhan paling tinggi maka aku selalu melampauinya. Kalau sang juara mendapatkan sesuatu yang sebelumnya aku inginkan, maka aku mengganti keinginanku melampauinya. Maka aku akan melampaui sang juara tanpa menyakitinya. Cukup aneh memang, tapi itulah bentuk "legowo" dari si juara kedua. 

Tidak perlu juara pertama di dunia, cukup jadi juara kedua di atas segala-segalanya tanpa ada yang tahu. Cukup diriku dan keikhlasanku yang menjadi saksi. Selama bahagia, selalu menjadi nomor dua pun tak apa. Selama ikhlasnya jauh di atas segalanya, tak pernah jadi pertamanya pun sakitnya terlewati dengan sendirinya. 

Tentukan posisimu. Tentukan garis finishmu yang sesungguhnya. Cuma untuk dirimu sendiri. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Amanah Tak Pernah Salah Memilih Pundak Tuannya

Pasti kalian pernah denger kalimat “amanah tak pernah salah memilih pundak tuannya”. Berdasar orang-orang yang memiliki amanah dan survey kecil-kecilan yang aku lakukan bahwa kalimat itu sering kali menjadi senjata dan kekuatan bagi mereka untuk kuat dalam menjalankan amanahnya. Mereka meyakini bahwa segala beban-beban dalam kehidupan mereka itu sudah diatur oleh yang kuasa, mereka percaya bahwa mereka akan mendapatkan sesuatu hal yang mungkin tidak bisa orang lain dapatkan.  Saat seseorang mendapatkan suatu amanah lalu dia menjalankannya dengan niat mencari ridho yang kuasa, maka segala beban berat di atas pundaknya akan dibantu diangkat alias berasanya enteng banget aja pas jalanin. Terdengar klise dan magis tapi kejadian beneran. Amanah secara istilah berarti jujur atau dapat dipercaya. P erilaku yang tetap dalam jiwa, dengannya seseorang menjaga diri dari apa-apa yang bukan menjadi haknya walaupun terdapat kesempatan untuk melakukannya.  Amanah itu ada banyak jeni...

Memangil Masa Lalu

"Masa lalu enggak usah diinget inget lagi. Jangan nengok ke belakang. Hidup itu harus ke depan"  Enggak sepenuhnya benar dan enggak sepenuhnya salah. Di dunia ini enggak ada yang absolut kok, semuanya tergantung. Bisa tergantung tujuannya, tergantung alasannya, tergantung peruntukannya, tergantung siap dan tidaknya, dan tergantung yang lainnya. Satu hal yang pasti, masa lalu juga bagian dari diri kita. Enggak bisa dihapus. Kalau dihapus ya berarti meniadakan keberadaaan kita di masa sekarang dan masa depan. Kita sudah terlanjur terbentuk oleh masa lalu.  Kalau sekiranya masa lalu sangat tidak perlu dikenang setiap saat, maka ia cuma perlu dibungkus rapi dan dibuka kembali saat kita siap atau bahkan tidak akan pernah dibuka lagi sama sekali sampai kapanpun. Your choice! Tapi aku ingin berbagi bagaimana caranya bersyukur dengan mudah. Enggak dipungkiri kita pasti sering banget kufur nikmat kan. Sering banget ngeluh seakan-akan Allah.swt jahat banget sama...

Kuliah Kerja Nyata (KKN)

Periode ini adalah Kuliah Kerja Nyata ke 55 Universitas Islam Indonesia 2017. Nah alhamdulillah banget dapat lokasi yang gak terlalu jauh banget dari Jogja yaitu di Dusun Kekoan Desa Pogalan Kecamatan Pakis Kabupaten Magelang Jawa Tengah. Kalo kalian tahu tempat wisata Top Selfie Pinus Kragilan, nah dusun kekoan ini berada di atas tepat dusun kragilan. Pengen cerita kalo KKN kali ini unitku yaitu unit 282 ada 9 orang yang menakjubkan, yang sampai sekarang selalu kusyukuri. 9 orang ini ada Mas Prasetyo Ardianto (Teknik Industri) dia ini kanit alias ketua unit yang uuuuhh wakaka gakusah dilanjutkan ya takut fitnah ah. Ketua unit ini parah banget jailnya tapi baiknya nggak usah ditanya ya. Ada Helmi Ilham Nugraha (Manajemen IP) hehe anak ini kocak, ya begitulah selalu bikin khawatir gara-gara dia sok sibuk banget karena kepilih jadi koordinator desa gitu deh, kadang suka lupa makan dan jiwanya akamsi hmmm anak kampung sini banget, kata warga dusun sini dia suruh nikah terus tinggal ...