Sudah hampir genap 3 tahun jadi pelari abal-abal alias atlet-atletan. Banyak yang aku sadari bahwa berlari bukan cuma sekedar cardio buat kaki dan jantung tapi juga cardio untuk hati dan mentalku. Mentalku dipacu sebegitu kencangnya sebagai obat atas semua hal-hal menyakitkan dalam hidupku. Ternyata aku enggak perlu psikolog --bukan karena suka mendiagnosa kondisi diri sendiri --karena aku selalu mencoba mengobati diri sendiri dulu sebelum pergi mencari obat di luar. Alasannya cukup simpel, karena biayanya paling murah dan ramah untuk diriku. Memulai lari setelah disakiti adalah keputusan terbaik dalam hidupku. Bukan tanpa alasan, lari adalah musuh terbesarku sejak kecil. Bukan cuma tidak berdamai dengannya, tapi sejak langkah pertama pun aku sudah kesakitan bukan main. Siapa sangka, di usia 26 tahun aku benar-benar berkawan dengan lari. Ternyata sakit saat langkah pertama lari tidak ada apa-apanya dibanding hati dan mentalku saat itu. Diterpa 2 kenyataan pahit ...
Menulis adalah kekuatan. Berpuisi adalah kesempatan