Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2019

Berdamai dengan Jakarta

Siapa sih yang enggak tahu kalau hidup di Jakarta itu kudu sabar pake banget. Ya meskipun hidup dimanapun juga butuh kesabaran ya karena hidup emang enggak segampang itu hahaha. Ada pepatah pernah bilang kalau hidup itu gampang, yang susah itu cara berpikir kita. Mungkin ada benarnya. Akhirnya karena aku sekarang sudah kecemplung di Jakarta, ada beberapa prinsip sosial yang kuterapin supaya bisa hidup tenang dan nyaman meski kondisinya enggak demikian. Jakarta penuh hingar bingar, bagi mereka yang mampu dan bisa menikmatinya. Sebab di Jakarta, kata orang-orang sih semua butuh uang even mau senang-senang aja butuh uang. Sebab di Jakarta, semua orang terlihat sibuk, buru-buru dan dikejar waktu. Enggak ada yang jalan lambat kecuali sedang menghabiskan uang (baca: jalan di mall). Buat yang enggak mampu dan enggak bisa menikmati hingar bingarnya Jakarta bisa stress dan udah banyak yang ngalamin itu. Sampe enggak tahan denger suara klakson, en...

How I Fight for What I Want

Twin Tower Malaysia, Agustus 2019 Dulu, aku pernah diragukan orang. Mungkin kalian juga pernah ya.   Terus, kemarin tanggal 29 Agustus 2019 tepatnya pukul 8 sekian pagi waktu Malaysia, aku baru aja mewujudkan apa yang dulu diragukan orang lain terhadap diri ini. Sebenarnya, padahal paham banget sih sama alasan orang meragukan kemampuanku. Yak karena mimpiku emang ketinggian kali ya dipikiran mereka atau yang kasian sama diri ini yang terkesan “ngoyo” banget ngejalanin hidup buat ngejar mimpi (tapi bukannya kita bisa semangat hidup karena masih punya banyak mimpi yang harus dikejar ya dan karena masih banyak hal yang pengen kita lakuin?). Anw, kupunya mimpi buat ke luar negeri pertama kali pake uang sendiri (sebenarnya maximal mimpinya pengen gratis sih tapi kalopun  enggak  gratis ya harus pake uang sendiri) bukan pake uang orangtua semacam liburan yang dibayarin sama Bapak Ibu huhu kebetulan aku terlahir dari keluarga yang  enggak bisa  jalan-ja...

Dare To Passing Not Just Dreaming

Tangga di Stasiun Tanah Abang Aku sekarang ada di usia 22 tahun. Iya, usia yang katanya sedang diambang kegalauan hidup. Sedang ada di fase bahwa menjaga hati dan bersyukur adalah satu-satunya jalan supaya tetep bisa stand by myself on the way i choose. Sedangkan di satu sisi godaan-godaan buat bersyukur lagi banyak-banyaknya. Ada temen yang udah S2lah, nikahlah, punya anaklah kerja dan sukseslah. Semuanya bikin iri. Terus kita menilai ke diri sendiri dan munculah pertanyaan "kok aku masih gini-gini aja ya"  Semua yang ada di usia 20an pasti mengalami ini. E nggak  terpungkiri, aku pun iya. Menanggapi diri sendiri yang begini emang solusi terbaiknya adalah mikir. Mikir udah sampai sejauh ini, sudah sampai fase ini dimana aku setidaknya masih lebih mending daripada teman-teman yang masih susah cari kerja atau dapet masalah lainnya dalam hidup mereka. Masih mending tinggal mikirin diri sendiri doang dimana Ibu Bapak  enggak  pernah ngasih target apa-apa ke ...

Set Yourself Up

Ditulisan ini aku ingin berbagi pengalaman yang Alhamdulillah dapet kesempatan dari kantor buat jaga stand job fair di salah satu career day universitas swasta di Jakarta. Aku di sini berperan sebagai semacam SPG gitu yang mempromosikan tentang info perusahaan termasuk info rekrutmennya. Nah yang mau kubahas ini mengenai bagaimana kondisi di sana dan bagaimana sisi recruiter dan sisi para pelamarnya memandang career day ini ya. Aku cukup pahamlah rasanya menjadi recruiter karena kemarin benar-benar terlibat dan tahu rasanya juga sebagai pelamar karena pernah beberapa kali datang ke job fair . Pihak perusahaan sebenarnya melihat pelamar dari apanya sih? Nah ini ada berbagai versi ya, karena kebetulan di kantorku ini, aku juga terlibat dalam hal “pelolosan awal” makanya kalo ada pelamar yang cukup “istimewa” dari pandangan kita akan kita tandai ya itung-itung sebagai filtering di awal aja. Kalo kalian berpikir darimana kita melihat keistimewaan itu? Ya jelas dari penampilan ...

Physical VS Moral

Hari Jumat, tanggal 29 Maret 2019 ada kejadian yang miris yang terjadi di kalangan remaja Indonesia. Audrey, remaja kecil yang baru duduk di bangku SMP menjadi korban aksi bullying dari sekelompok remaja yang duduk di bangku SMA. Tingkat bullying yang terjadi sudah sampai fase parah karena melibatkan kekerasan fisik hingga ke organ-organ vital. Jika bullying yang hanya secara verbal saja sudah mampu membuat trauma yang mendalam bagaimana dengan yang dialami oleh Audrey. Aku sendiri pun masih  enggak  habis pikir sama kasus ini. Aku memikirkan beberapa hal yang sangat penting bahkan sampai sulit kucerna sendiri. 1. Pelakunya sekelompok Anak SMA yang notabene enggak nyerang teman sebayanya tapi malah anak SMP. I think, what’s the motive behind it? Ini anak sekelompok anak SMA punya masalah apa sama Audrey yang notabene anak SMP. Sesuai berita yang beredar kalau pihak berwenang pun belum nemuin motif dibalik ini semua 2. Pelakunya anak perempuan. Girls, what happ...

Negative Actions Produce Negative Reactions

Ini KRL jurusan Jakarta-Bekasi yang kuambil  waktu transit di Stasiun Manggarai  (kelihatan kan berjubelnya terpampang nyata sampe dipinggir pintu wakaka) Pernah lihat orang ngeludah sembarangan? atau pernah lihat orang batuk tapi enggak berusaha nutupin mulutnya? kalo bersin tapi enggak ditutup mulutnya atau nguap enggak ditutup mulutnya? atau yang paling simpel lagi pernah lihat orang atau denger orang dideketmu ngeluarin suara "ck". "Ck" adalah semacam bunyi yang keluar dari mulut, biasanya dikeluarkan karena bentuk kekesalan seseorang/kemarahan orang terhadap sesuatu hal yang terjadi pada dirinya bisa dari lingkungan sekitarnya bisa jadi dari lingkungan lainnya dia. Aku mau share nih, tentang apa yang terjadi padaku kalo denger orang yang bilang "ck", ngeludah sembarangan atau batuk tapi enggak nutup mulut. Paling nyata yang terjadi adalah kita jadi ikut kesel, misal orang itu bilang "ck"  karena sesuatu hal enggak enak yang ada dise...