Hari Jumat, tanggal 29 Maret 2019 ada kejadian yang
miris yang terjadi di kalangan remaja Indonesia. Audrey, remaja kecil yang baru
duduk di bangku SMP menjadi korban aksi bullying dari sekelompok remaja yang duduk
di bangku SMA. Tingkat bullying yang terjadi sudah sampai fase parah karena melibatkan
kekerasan fisik hingga ke organ-organ vital. Jika bullying yang hanya secara
verbal saja sudah mampu membuat trauma yang mendalam bagaimana dengan yang
dialami oleh Audrey. Aku sendiri pun masih enggak habis pikir sama kasus ini. Aku memikirkan beberapa hal yang sangat penting bahkan sampai sulit kucerna
sendiri.
1. Pelakunya
sekelompok Anak SMA yang notabene enggak nyerang teman sebayanya tapi malah anak SMP.
I think, what’s the motive behind it?
Ini anak sekelompok
anak SMA punya masalah apa sama Audrey yang notabene anak SMP. Sesuai berita
yang beredar kalau pihak berwenang pun belum nemuin motif dibalik ini semua
2. Pelakunya anak perempuan. Girls,
what happened to you?
You such a bitch crazy.
Gini lho, anak-anak perempuan yang notabene sama kucing kotor aja kasian, kenapa
mereka tega sama manusia yang sama-sama perempuan dan mumurnya masih di bawah
mereka. I think, fuck the boys tapi ini anak-anak perempuan yang ngelakuin ini
3. Muncul
beberapa meme dan cuitan soal pelakunya yang cantik-cantik. I think, why does
everyone still care about physical problems in situations like this?
Kenapa orang-orang enggak fokus
kepada korban dan pengusutan kasusnya supaya tuntas. Iya, yang fokus ke korban juga
banyak tapi yang fokus ke perihal cantik-cantik itu juga banyak. Ya kebanyakan
emang laki-laki sih yang bahas itu. Boys will be boys kan, huft pengen jambak
yang masih ngomongin fisiknya pelaku sih kalo gini caranya
Itulah kenapa hal pertama yang akan kubahas kali ini
adalah perihal fisik baik yang enggak dibarengi dengan moral yang baik. Ku rasa, di
beberapa belahan dunia masih belum terbuka perihal moral lebih penting daripada
fisik atau minimal fisik baik harus dibarengi dengan moral yang baik juga. Nyatanya,
ditengah kasus begini masih ada aja yang ngomongin fisik secara gamblang dan enggak takut beda dari orang lain di saat orang lain sedang fokus ke korban dan kasusnya
eh dia malah fokus ke fisiknya, huft.
Sekarang ini, mereka para perempuan emang pada bangga
aja gitu kalo fisiknya baik tanpa mikir gimana perilaku mereka di lingkungan
mereka. Mereka cuma sibuk main media sosial buat pamer ke sana dan sini sehingga
lupa untuk membentuk moral yang nyata untuk lingkungan mereka. Kenyataannya
lebih banyak perempuan yang update foto selfie daripada prestasi.
Aku yakin, masih banyak banget perempuan yang lebih
bangga dipuji cantik daripada dipuji pintar atau dipuji baik. Kebanyakan mereka bakal lebih
tersipu-sipu malu kalo dipuji cantik sebab enggak semua wanita peduli dengan diri
mereka, mereka cuma peduli sama omongan orang terhadap mereka. Padahal
sejatinya yang terpenting adalah membentuk diri sebaik mungkin, urusan orang
muji atau enggak itu harusnya enggak jadi patokan. Kenyataannya perempuan yang dipuji
pintar dan baik pun selalu dibumbui dengan pujian fisik didepannya (ex: kamu
tuh udah cantik, pinter lagi).
Sebenernya, enggak peduli pelakunya laki-laki atau perempuan
yang namanya salah ya salah aja. Hukum kan enggak mengenal gender. Hal yang sangat
ku garis bawahi adalah soal pelakunya yang perempuan dan berusia remaja. Okelah,
banyak juga kasus kekerasan bahkan pembunuhan yang dilakukan sama perempuan tapi
mentok-mentok berangkat dari latar belakang KDRT atau seorang perempuan yang
frustasi sampe membunuh bayinya itupun berangkat dari frustasi yang emang dia ngalamin
kelainan mental atau tuntutan kebutuhan hidup yang enggak bisa terpenuhi gitu biasanya.
Sedangkan kasus Audrey ini kasus yang menyerang kalangan remaja dengan latar
belakang bullying yang belum jelas motifnya apa. Menurutku kasus bullying adalah
kasus paling absurd karena ini lebih enggak mutu aja gitu menurutku daripada kasus
kelainan mental atau karena ketidaksanggupan memenuhi kebutuhan hidup atau lagi
karena masalah rumah tangga ex: perselingkuhan di kalangan suami-istri.
PR orang tua besar banget di sini. Kebanyakan mereka,
just make sure that their son/daughter happy at school. They don’t make sure
their son/daughter bullying other or have a problem at school. Berarti tugas
orang tua nambah dong. Mereka harus mastiin kalo anak mereka peduli enggak sih
sama orang lain, suka nolong orang lain enggak sih atau malah suka manfaatin orang
lain enggak sih bahkan suka nyakitin orang lain enggak sih. Yang bilang kalo ini mustahil,
karena orang tua mereka enggak bisa dong mastiin anak mereka ngapain aja di
sekolah. Iya, buat yang anaknya udah remaja emang udah susah buat ngawasin
hal-hal beginian. Tapi mari kita telaah……usia remaja adalah usia peralihan,
mereka sedang merasa tidak suka diperintah atau dinasehati dan merasa dirinya
udah gede (ini karena aku sendiri juga ngerasain dulu).
So, what precautions should be taken to prevent your son/daughter
not do so when they are teenager?
Aku kemarin ngobrol soal kasus sama Bos di kantorku. Aku setuju sih sama beliau. Beliau bilang gini “Gue tahu,
gue enggak bisa mastiin besok anak gue (anaknya perempuan dan masih bayi) bakal
berada dilingkungan kayak apa atau punya temen yang kayak gimana tp gue pengen
mastiin kalo anak gue besok udah punya bekal walopun dia ada di lingkungan yang enggak baik. Gue pengen anak gue udah punya modal yang kuat kalo nyakitin orang
atau seminimal mungkin ngerugiin orang tuh enggak boleh. Jadi dia harus punya dasar
moral dulu di awal sehingga kalopun dia masuk ke lingkungan yang buruk dia bisa
survive dan membatasi dirinya + bisa nge-set peran dia di sana. Makanya gue
pengen anak gue besok bisa karate karena anak yang bisa beladiri malah jarang nyakitin
orang karena dia tahu kalo beladiri ya digunain untuk pertahanan aja”
Aku rasa itu bener, sekolah pertama anak ya di rumah.
Disamping itu, walaupun sudah dikasih dasar moral dari kecil ya tetep harus
diawasi sampe gede juga sih. Kita juga enggak tahu apa yang sudah atau belum orang
tua para pelaku itu lakukan sama anaknya. Tapi kalo mendengar isu yang bahwa
pelaku itu katanya enggak ngerasa salah dan masih bisa ketawa-ketawa terus update
insta story bahkan malah mengandalkan link karena orang tua mereka punya
otoritas tertentu ya kita bisa menduga kalo mereka tumbuh di lingkungan yang
semuanya serba mudah dan dimanjakan dengan segala kemudahan akses.
Pada akhirnya mau dia anak pejabat, mau dia cantik, atau
dia masih di bawah umur yang namanya merugikan korban ya harus menyelesaikan
proses hukum dan ditindak. Sudah seharusnya hukum enggak pilih-pilih.

Komentar