Makin dewasa, makin senang nerima semua kritikan dan kekurangan. Bukan karena pasrah, karena semakin tahu dari sekian lama hidup yang sudah dijalani memang sudah perlu untuk membahas perihal diri sendiri. Membahas diri sendiri enggak bisa dilakukan sendiri ternyata, perlu bantuan orang yang tentunya memang mau kita juga bertumbuh. Bukan cuma sekedar judging enggak ada maksud.
Bersyukur sekali punya orang-orang di sekitar yang sayang banget dan mau Aku bertumbuh dengan baik setiap waktunya. Menemani suka dan duka ternyata riil adanya. Menemani suka dan duka bukan cuma nemenin semata, tapi kontribusi dalam tumbuh kembang kita sebagai manusia.
Maka manusia yang beruntung bukan dia yang dapat doorprise terus. Tapi manusia yang dikelilingi sama manusia lain yang mau nemenin bertumbuh. Di usia yang semakin tua ini, ketika dikritik bukan lagi denial tapi kayak ngaca "hmmmmm iya ya".
Beberapa kritikan yang Aku dapat akhir-akhir ini adalah Aku baru tahu kalau Aku sangat ambis di beberapa hal. Kelihatan luarnya santai ya kan keman kemon ulala ulala kesana kemari tapi too much pressure ke diri sendiri. Aku sadari benar setelah mikir beberapa kali. Ternyata iya wakaka. Padahal impian sejak dulu dan doa setiap ulang tahun adalah bisa menjalani hidup dengan tenang dan damai.
Padahal baru aja semalam baca di medsos soal pengertian hidup tenang. Hidup tenang adalah hidup yang tidak menyesali masa lalu, yang tidak mengkhawatirkan masa depan, dan menikmati masa kini.
Gila enggak tuh, padahal masih banyak dari kita sudah selesai dari masa lalu, tapi masih bingung masa depan gimana atau menikmati banget masa kini tapi bingung juga masa depan gimana dan yang lebih parah adalah belum selesai sama masa lalu dan membawanya ke masa kini bahkan masa depan huhu.
Kritik untukku lainnya adalah bahwa Aku selalu berusaha mencari alasan dari suatu hal bisa terjadi. Sesuatu terjadi pasti karena suatu alasan tetapi kita enggak perlu tahu karena ada orang yang bilang ke Aku bahwa enggak tahu itu boleh sebab doesn't exist is exist. Enggak tahu alasan untuk banyak hal itu enggak apa-apa dan enggak perlu pusing untuk cari tahu. Negatifnya dari pengen selalu tahu alasan dari setiap hal terjadi akhirnya judging atau suka nebak. Padahal ya simply enggak tahu aja.
Judging itu ngebawa ke hal-hal lebih negatif lagi yaitu maksain diri, karena enggak tahu jadinya maksa untuk cari. Dari maksa nyari itu akhirnya maksain diri sendiri untuk tahu terus dan terus. Enggak boleh untuk enggak tahu. Tidak menormalisasi ketidaktahuan. Memaksa otak untuk mikir kira-kira kenapa saking enggak tahunya. Padahal, kira-kira adalah hanya kemungkinan dan itu berarti judging.
Bersyukur sekali dapat itu semua di sekarang, sehingga bisa introspeksi diri. Bisa bertumbuh lebih baik lagi sama orang-orang baik yang mengiringi langkahku. Ternyata kritikan itu nagih kalau disampaikan dengan baik. Ternyata kritikan itu nagih kalau disampaikan sama orang-orang tulus yang enggak cuma asal lempar tapi naruh kritikan itu sebagai bagian di hati kita. Terima kasih orang-orang baik, mari tumbuh bersama lebih baik lagi bukan cuma setiap hari tapi setiap waktu.

Komentar