Seperti
yang pernah ku update di twitter beberapa waktu lalu soal cerita Taman Pendidikan Al-Quran
(TPA) yaitu kegiatan mengaji dan belajar agama islam rutin setiap
hari/minggunya. Aku ulangi ya di sini. Jadi kemarin hari kamis ngajar TPA di
masjid deket rumah, sistemnya pas kebagian ngajarin yang qur’an. Nah sistem
bacanya nih setiap anak baca satu ayat gitu terus gantian anak yang lain urut gitu
lah yak. Di putaran satu, anak-anak baca situasi nampak aman. Begitu masuk putaran dua ada satu anak nangis. Anak
ini nangis pas giliran temannya yang lain baca, otomatis aku enggak notice ya kan
dia nangis.
Temen yang lain yang bilang "Mbak, si X nangis", aku awalnya biasa
aja, cuman ya kuelus-elus dulu tangannya sambil tetep merhatiin
yang lagi baca. Kenapa aku enggak heboh atau panik kalau ada anak nangis ya karena
anak nangis tuh dah kayak hal biasa banget gitu di TPA. Berantem sampe
jambak-jambakan jilbab pun dah biasa, jambak-jambak rambut, teriak-teriak enggak mau dilerai ya udah makananku tiap minggu. Namanya juga anak-anak ya kan. Nah setelah yang anak baca tadi kelar kan bacanya. Aku stop dulu tuh anak selanjutnya yang mau baca, aku merhatiin si anak nangis dulu
nih, kutanya kenapa dek? kok nangis? ada yang nakalin ya? ada yang marahin?
atau kenapa? doi cuma geleng-geleng doang, asli kubingung banget. Bingung
bukan karena anak ini enggak jawab dengan jelas, tapi bingung gimana cara
ngelanjutin sesi ini baca qur’an, kalau ada anak yang nangis kan yang lain jadi enggak fokus juga ya kan, orang pada ngeliatiin doi.
Setelah sepersekian menit
akhirnya doi bersuara juga, antara jelas dan enggak jelas, doi bilang....”enggak mau ngaji di sini”. kulangsung deg. Kenapa? Loh kenapa?. Akhirnya doi pindah ngajinya
ke pengajar lain. Setelah itupun aku masih bertanya-tanya kenapa, pasti ada yang salah sama aku nih.
Okelah, hal itu udah berlalu. Selanjutnya
sesi bebas, artinya setiap pengajar punya agenda masing-masing yang mereka
pengen kasih ke santrinya. Anak-anak yang tadi ngaji sama aku akhirnya pengen
sesi tanya jawab gitu, seputar pengetahuan agama islam. Karena anaknya banyak, mereka ngajuin
opsi buat berkelompok, dua orang dalam setiap kelompok supaya mereka bisa diskusi
kalau ada pertanyaan yang susah. Ya ku ikut ajalah maunya anak-anak gimana. Mereka
ngitungin sendiri poin dalam menjawab pertanyaan dengan benar, padahal aku enggak pernah pengen ada poin-poin. Ini cuman ajang belajar aja tapi dengan sistem
seru dan supaya anak mau percaya diri menjawab pertanyaan. Singkat cerita sesi
pertanyaan udah selesai. Di akhir sesi ini ada lagi satu kelompok yang nemuin aku dan bilang “Mbak, kita besok enggak mau ikut mainan lagi, kita kalah terus”.
Seketika langsung sedih di situ, bukan sedih karena mereka
kalah tapi sedih kenapa mereka bisa mengutarakan hal seperti itu, mereka bukan
anak kelas satu atau dua SD lagi, rata-rata dari mereka sudah kelas 5 dan 6 SD. Maksudku, artinya usia mereka sudah ada di usia belasan tahun. Kenapa mereka
bisa punya mental demikian. Kenapa hati mereka kecil banget buat menerima
kekalahan dan menghargai orang lain. Usut punya usut, anak yang tadi nangis dan
pindah ngaji tadi juga pindahnya karena doi enggak mau ngaji sama aku, karena
ngaji sama aku dibenerin terus dan hampir setiap ayat kubenerin, karena memang
salah terutama panjang pendeknya. Aku ngelakuin
itu karena belajar dasar adalah yang terpenting, belajar Qu’ran kalau terbiasa salah
dan enggak dibenerin akan jadi paten dan akan lebih susah dibenerin daripada
sewaktu masih dasar. Sebab mereka sudah terbiasa dengan intonasi/cara baca
mereka makanya akan susah dibenerin ketika mereka besok sudah lancar bacanya.
Sampai
sekarang aku masih berpikir, apa yang salah denganku huhu. Aku sudah berusaha
mengajarkan mereka seperti apa yang aku dapat dulu. Kalau memang benar setiap
anak harus punya perlakuan khusus kenapa di setiap hal malah aku terkesan salah dan
yang protes atau bermasalah enggak cuman anak itu-itu aja, tapi beda-beda. Aku introspeksi diri lagi, kukira memang ada masalah dengan mental anak jaman
sekarang. I don't know how their parents treated them at home. Aku enggak menyalahkan tapi memang
ada penurunan drastis dalam segi mental anak-anak di era sekarang dibanding dulu.
This is not only a mission for their parents, but also their teacher at school dan termasuk aku. Semua pengajar terutama, tentu saja yang terlibat dalam kehidupan mereka
untuk membantu mereka tumbuh dan berkembang. Aku harap orang tua yang punya anak di usia tumbuh kembang juga harus peka akan hal ini, pembelajaran pertama ada di rumah. Orang tua punya
peran besar dalam pertumbuhan mereka. Ku cuma khawatir terhadap era
selanjutnya yang mau enggak mau menerima anak dari era sekarang yang punya mental
demikian jika enggak diubah dari sekarang. Kasian untuk kehidupan selanjutnya,
tanggungannya akan berat dan hidup akan jauh lebih berat tapi anak-anak enggak siap untuk itu.