Belum lama ini aku holiday ke Jakarta. Sekitar
seminggu aku ada di wilayah sana, meski nomaden wakaka alias pindah-pindah
karena urusan yang berbeda di berbagai tempat mengharuskan aku juga
berpindah-pindah setiap waktu. Selama di sana, aku full menggunakan public
transportation. Di Jakarta yang merupakan kota besar, sekarang ini public transportation merupakan hal yang
mudah ditemui bahkan lebih mudah ditemui dibandingkan Kota Yogyakarta. Semoga Yogja
lekas menyusul yaw sebelum kendaraan pribadi semakin merajalela (eh, apa sudah?).
Public
transportation yang paling sering kugunakan adalah transportasi online dan KRL Commuter Line milik PT Kereta Api Indonesia. Sesuai dengan amanat Presiden Joko Widodo pada saat
ulang tahun PT KAI Ke-72, Beliau mengatakan “……Semoga PT KAI semakin maju dan melaju, dan menjadi moda transportasi yang favorit, yang aman, yang cepat, dan tepat waktu”. Benar adanya,
kini PT KAI semakin maju. Dari yang dulunya (ini yang paham aja ya,
penumpangnya naik di atas atap kereta dan tak terkendali keamanannya). Kini PT
KAI menjelma menjadi moda transportasi favorit di kalangan masyarakat ibu kota.
Dengan harga tiket yang murah dan ketepatan waktu yang tinggi PT KAI mampu
berkembang pesat melebihi sistem transportasi yang lainnya di Indonesia. PT KAI
juga mampu menjelma menjadi moda transportasi yang mengajarkan masyarakat untuk
maju mengenal teknologi dan melihat dunia lebih luas seperti sistem ticket dengan ticket card dan sistem pembelian dan pengembalian jaminan
menggunakan ticket machine mengajarkan
masyarakat untuk mengenal teknologi baru, selain itu dengan sistem KRL yang tepat
waktu juga mengajarkan masyarakat untuk hidup disiplin menghargai waktu. Pokoknya
nyaman lah naik KRL. Ayo naik KRL wakaka.
Segitu dulu ya cerita KRLnya hehe, yang mau aku bahas
ini bukan soal KRLnya tapi orang-orang jakartanya. Siap?
Seperti yang kita tahu, Jakarta adalah kota
metropolitan dimana jutaan orang menggantungkan hidupnya di sana. Kita
ngomongin orang-orang yang naik KRL ya ini. Buanyak banget pekerja yang
menggantungkan hidupnya juga bersama KRL setiap hari, pulang dan pergi. Maka
dari itu KRL bakal penuh di pagi hari antara jam 7-8 dan sore hari antara jam 16-18.
Nah yang mau aku bahas adalah orang-orang itu. Orang-orang pengguna KRL. Jika
kamu adalah orang yang suka malas-malasan, kurang bersyukur, bahkan menyesali
atau banyak mengeluh dengan kehidupanmu sekarang, naik KRL di jam-jam tersebut
sangat aku rekomendasikan. Naik KRL mengajarkan aku untuk bersyukur dengan
apa yang aku punya saat ini. Melihat mereka yang sampai tertidur di KRL karena
lelahnya hidup, karena mereka harus mencari nafkah setiap hari berangkat pagi
pulang petang hari, esok seperti itu lagi diulangi dan pantang bosan. Ada yang
lebih menyentuh lagi, (mungkin) sampai tak punya waktu karena bekerja sepanjang
hari sampai rumah sudah malam hari, mengharuskan beberapa orang yang memiliki
prinsip “1 hari minimal 1 ayat” mereka sampai membaca Al-Quran di kereta. Tak
peduli dapat tempat duduk atau enggak, mereka membuka Al-Quran mereka masing-masing.
Mereka baca dimanapun mereka bisa baca. Salut banget sama mereka hiks.
Harus diakui, untuk bersyukur banyak caranya. Melihat
mereka yang kekurangan juga bisa jadi pemantik untuk bersyukur, namun tak dipungkiri
kita juga kadang menutup mata dari mereka. Melihat kondisi kita yang hidup di
lingkungan perkantoran dengan hiruk pikuk pekerjaan membuat kita lupa dan jauh
dari orang-orang yang tidak mampu tersebut. Terlebih membandingkan dengan
mereka kadang menjadikan kita congkak karena jarak kehidupan yang terlalu jauh
seperti (“ya pusingnya kan beda, mereka cuma mikir cara makan besok karena enggak punya
tanggungan hidup yang lain dan pusingnya kan bukan soal dimarahin bos atau
dikejar deadline”, jangan salah orang yang berpikir demikian banyak lho).
Sehingga dengan melihat hal-hal yang tak jauh dari kehidupan kita akan membantu
kita untuk lebih dekat dengan cara bersyukur. Dengan membandingkan orang yang kehidupannya
sama dengan kita tapi dengan tantangan hidup yang berbeda akan membuat kita lebih
tahu bahwa kita harus lebih bersyukur.
Analoginya gini, ada pelajar di kota metropolitan dengan grade nilai
yang harus tinggi, jika mereka membandingkan mereka dengan pelajar di pelosok
negeri ya akan menimbulkan rasa aneh seperti (ya mereka kan pusingnya beda,
mereka gkpunya nilai tinggi enggak apa-apa karena masih bisa sekolah dengan tenang, Kalau
kita enggak punya nilai tinggi bakal dikucilkan di sekolah atau minimal di
keluarga). Taraf hidup yang berbeda akan memiliki tuntutan yang berbeda, sehingga
untuk menciptakan rasa syukur harus membandingkan diri kita dengan yang setidaknya
memiliki kondisi sama. Seperti sama-sama membandingkan dengan pelajar di kota
metropolitan tapi dengan keadaan ekonomi yang lebih rendah atau sebagainya.
Dengan keadaan yang sama (pelajar metropolitan) tapi dengan ekonomi yang
berbeda, pelajar dengan ekonomi lebih baik akan dapat bersyukur bahwa Dia masih
harus jauh lebih bersyukur dibanding temannya yang berekonomi rendah, karena
tanggungan mereka yang sama namun dengan tantangan hidup yang berbeda.
Aku senang, setiap aku pulang dari suatu perjalanan selalu dapat oleh-oleh yang berharga. Jangan lupa bawa oleh-olehmu pulang setiap habis bepergian.
