Langsung ke konten utama

Makin Dewasa (Harusnya) Makin Jujur


Selalu pengen nulis setiap habis ditampar orang.

Beberapa waktu lalu sudah keman kemon ke KalSel dan KalTeng buat mengisi gap kerja selama sebulan. 
Pelajaran berharga dari perjalanan kali ini adalah menyadari permaknaan syukur dan jujur. 

Syukur kalau hidup kita yang banyak drama juga dialami orang lain. Bukan karena sekedar seneng ya tapi ternyata setiap orang hidupnya juga enggak semulus itu. Jujur bahwa enggak semua drama bisa kita cari solusinya. Cuma bisa kita lewati aja meski tanpa solusi. Enggak semua perlu solusi, beberapa masalah datang kadang hanya menjadikan kita penontonnya dan enggak mesti pemeran utamanya. Meski terlibat tapi pokok masalahnya bukan kita. 

Lalu baru beberapa hari masuk kantor lagi dan langsung ditampar oleh atasan sendiri di hari ke-2 kerja dengan bilang "Kenapa sih enggak mau jujur sama diri sendiri? Bilang enggak mau kalau enggak mau, bilang enggak bisa kalau enggak bisa" 

Setelah ditamparpun sadarnya lama. Ternyata selama ini denial ya. Denial sama diri sendiri. Pantesan makna freedom terasanya sangat jauh. 
Freedom dalam arti sesungguhnya. Mungkin kalau dikasih penjelasan akan sangat tipis bedanya dengan egois tapi ternyata egois berkaitan dengan pengen dingertiin orang dan freedom berkaitan dengan ketidakmemaksaan diri buat sesuatu yang enggak enjoy saat kita ngejalaninnya. 

Saat kita enggak enakan sama orang atas dasar kasian atau enggak ikhlasnya diri ini melihat hal-hal yang wajar terjadi disitulah kita enggak bisa bebas. Kenapa harus ngerasa enggak enak enggak minjemin uang buat sahabat kalau emang kita juga lagi enggak punya? 

Kenapa harus ngerasa enggak enak ke pedagang kalau sudah ditawarkan dengan kencengnya toh kita memang sedang tidak butuh barang itu bahkan kondisi uang kita pun enggak lebih juga? pun kalaupun punya uang dan enggak pengen boleh boleh aja kok ngelawan rasa kasihan. Kita beli atau enggak, pada akhirnya orang-orang yang kita bantu ini enggak ada hubungannya sama kita. Bukan urusan kita soal rejeki yang akan datang ke dia. Totally ya Tuhan yang ngatur semuanya. Kecuali, konteknya emang udah niat bantu ya bukan atas dasar enggak enak aja. 

Kenapa harus selalu dikuasai sama rasa enggak enak? 

Kenapa enggak bilang ke atasan "maaf, saya enggak sanggup mengerjakan tugas dari Bapak/Ibu yang ini atau ini" ketimbang memaksa sampai harus ngorbanin kesehatan buat itu. Ternyata yang kita enggak tahu, kalau kita enggak ngelakuin itu juga enggak kenapa-kenapa. Enggak akan terjadi apa-apa yang sampe gimana gimana. Entah ini berlaku untuk semua hal atau enggak tapi sangat berlaku di perusahaan tempatku kerja. 

Ternyata kita cuma perlu jujur ke diri sendiri untuk bisa melanjutkan hidup dengan tenang dan bebas. Ternyata kejujuran ke diri sendiri juga bagian dari penilaian orang saat melihat kita. Bukan takut dinilai enggak baik tapi orang jadi paham kalau kita enggak bisa ngerti sama maunya diri sendiri. Fun factsnya, enggak banyak yang benar memaknai kebebasan itu. Berarti kan ini bukan perihal orang jawa atau bukan tapi kita sejak kecil terbiasa menerima budaya itu. Ada rasa empati manusia di Indonesia yang secara enggak sadar terbentuk seperti itu. 

Sekali dua kali itu enggak akan terasa sampai kita sadar bahwa di beberapa hal kita terpaksa atau enggak setenang itu melakukannya. 
Di beberapa hal ada yang kita korbankan secara enggak langsung dan kita jadi perhitungan. 
Hidup di Jakarta membuat bisa melihat dengan jarak lebih jauh dan jangkauan lebih luas bahwa permaknaan sesuatu harus lebih utuh. Lepaskan denial. Hiduplah selayaknya mau hidup. 

Penutupnya adalah mulai mau belajar bilang tidak dan enggak buat sesuatu yang aku enggak mau atau enggak bisa. 
Lepaskan semua perasaan termasuk mewajarkan hal-hal yang tidak mau dan tidak bisa kita kerjakan. Mulai sadar bahwa badan ada limitnya dan kemauan untuk sesuatu hal juga ada limitnya. 

Selamat belajar juga ya peeps! 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Amanah Tak Pernah Salah Memilih Pundak Tuannya

Pasti kalian pernah denger kalimat “amanah tak pernah salah memilih pundak tuannya”. Berdasar orang-orang yang memiliki amanah dan survey kecil-kecilan yang aku lakukan bahwa kalimat itu sering kali menjadi senjata dan kekuatan bagi mereka untuk kuat dalam menjalankan amanahnya. Mereka meyakini bahwa segala beban-beban dalam kehidupan mereka itu sudah diatur oleh yang kuasa, mereka percaya bahwa mereka akan mendapatkan sesuatu hal yang mungkin tidak bisa orang lain dapatkan.  Saat seseorang mendapatkan suatu amanah lalu dia menjalankannya dengan niat mencari ridho yang kuasa, maka segala beban berat di atas pundaknya akan dibantu diangkat alias berasanya enteng banget aja pas jalanin. Terdengar klise dan magis tapi kejadian beneran. Amanah secara istilah berarti jujur atau dapat dipercaya. P erilaku yang tetap dalam jiwa, dengannya seseorang menjaga diri dari apa-apa yang bukan menjadi haknya walaupun terdapat kesempatan untuk melakukannya.  Amanah itu ada banyak jeni...

Memangil Masa Lalu

"Masa lalu enggak usah diinget inget lagi. Jangan nengok ke belakang. Hidup itu harus ke depan"  Enggak sepenuhnya benar dan enggak sepenuhnya salah. Di dunia ini enggak ada yang absolut kok, semuanya tergantung. Bisa tergantung tujuannya, tergantung alasannya, tergantung peruntukannya, tergantung siap dan tidaknya, dan tergantung yang lainnya. Satu hal yang pasti, masa lalu juga bagian dari diri kita. Enggak bisa dihapus. Kalau dihapus ya berarti meniadakan keberadaaan kita di masa sekarang dan masa depan. Kita sudah terlanjur terbentuk oleh masa lalu.  Kalau sekiranya masa lalu sangat tidak perlu dikenang setiap saat, maka ia cuma perlu dibungkus rapi dan dibuka kembali saat kita siap atau bahkan tidak akan pernah dibuka lagi sama sekali sampai kapanpun. Your choice! Tapi aku ingin berbagi bagaimana caranya bersyukur dengan mudah. Enggak dipungkiri kita pasti sering banget kufur nikmat kan. Sering banget ngeluh seakan-akan Allah.swt jahat banget sama...

Kuliah Kerja Nyata (KKN)

Periode ini adalah Kuliah Kerja Nyata ke 55 Universitas Islam Indonesia 2017. Nah alhamdulillah banget dapat lokasi yang gak terlalu jauh banget dari Jogja yaitu di Dusun Kekoan Desa Pogalan Kecamatan Pakis Kabupaten Magelang Jawa Tengah. Kalo kalian tahu tempat wisata Top Selfie Pinus Kragilan, nah dusun kekoan ini berada di atas tepat dusun kragilan. Pengen cerita kalo KKN kali ini unitku yaitu unit 282 ada 9 orang yang menakjubkan, yang sampai sekarang selalu kusyukuri. 9 orang ini ada Mas Prasetyo Ardianto (Teknik Industri) dia ini kanit alias ketua unit yang uuuuhh wakaka gakusah dilanjutkan ya takut fitnah ah. Ketua unit ini parah banget jailnya tapi baiknya nggak usah ditanya ya. Ada Helmi Ilham Nugraha (Manajemen IP) hehe anak ini kocak, ya begitulah selalu bikin khawatir gara-gara dia sok sibuk banget karena kepilih jadi koordinator desa gitu deh, kadang suka lupa makan dan jiwanya akamsi hmmm anak kampung sini banget, kata warga dusun sini dia suruh nikah terus tinggal ...