Source: Google
Kabar rancangan undang-undang omnibus law yang rilis baru-baru ini menjadi kabar buruk buat semua orang terlebih undang-undang mengenai cipta kerja. Ya gimana enggak, di dalam undang-undang itu banyak pasal kentang malah menuju ambigu yang cenderung merugikan kalangan pekerja/buruh. Jangan dikira buruh di sini adalah karyawan pabrik aja. Semua karyawan/pekerja yang bekerja di perusahaan ya buruh. Even posisimu di peruhaan gede juga tetep aja buruh. Jadi jan bangga dan ngerasa hidup aman wqwqwq.
Semua orang sekarang ngomongin soal ommibus law ini. tiba-tiba yang tadinya mungkin enggak care sama negara karena ini menyangkut kerugian bagi diri sendiri akhirnya ikut bersuara entah di media sosial atau melalui aksi. Jelas aja karena ini akan merugikan mereka dan berefek bukan hanya di saat sekarang tapi pasal itu mengatur hingga kesejahteraaan hari tua, termasuk kalo besok phk dan pensiun.
Scrolling media sosial aku lakuin buat tahu apa saja sih yang sebenernya orang-orang rasain pas tahu ada rancangan undang-undang ini. Ada banyak pihak (mungkin buzzer) yang enggak tahu tujuannya apa ehehe kadang keluar konteks dalam menanggapi kasus ini. Di saat orang-orang bener yang peduli sama kesejahteraan buruh dan pekerja menyoroti pasal dan membedah pasal itu sendiri eh ada kalangan yang malah flashback ngomongin hal lain dan berujung ke provokasi.
Untuk beberapa tagline atau tagar semacam DPR blabla itu sih wajar aja karena pihak yang bisa ditembak sekarang ya cuma DPR gitu. Pun ada yang menyoroti presiden juga. Menurutku itu masih batas wajar karena enggak keluar konteks pembahasan. Yang badut banget sih yang bilang "Untung aku golput dulu jadi enggak perlu ngerasa bersalah karena DPR dan presidennya gini sekarang". Aku pengen membedah kenapa aku dongkol banget sama jenis kalimat kayak gitu.
Orang-orang gitu intinya mah cuman pengecut dan cari aman + males aja. Buat milih wakil rakyat mana yang layak dipilih ya harus cari rekam jejaknyalah. Kalo ada orang milih golput daripada menggunakan hak suaranya sama aja ngehiglight dirinya sendiri kalo "Aku males banget nih cari rekam jejaknya calon anggota DPR, jadi daripada ribet gosah milih aja". Enggak ada yang bisa kita percaya selain rekam jejak ya meskipun itu juga enggak mutlak at least kita ada harapan kalo yang bakal mereka lakuin saat kepilih nanti ya enggak jauh beda sama rekam jejak yang udah mereka lakuin kecuali itupun kalo gk terpengaruh sama korupsi dll ya kan. Apa yang terjadi kalo misal yang kita pilih berdasarkan rekam jejaknya pun ternyata salah?
Dicatat!
Catat siapa namanya dan besok ketika ada pemilihan lagi pastiin orang-orang yang bersangkutan sama dia entah partai, keluarga atau orang yang ada hubungannya sama dia jangan dipilih lagi dan ini bukan tanpa alasan ya karena bisa aja doi (yang sekarang menjabat itu) masih punya andil buat calon yang besok nyalon. Ah kek enggak tahu indo aja sih. Nepotisme gosah ditanya lagi ya kan. Enggak ada yang bisa kita lakuin selain belajar dari pengalaman karena dengan golput juga enggak menyelesaikan masalah malah cenderung kamu membiarkan orang yang mungkin harusnya enggak jadi jadi dapat suara banyak dan yang tadinya calon paling buruk enggak harusnya menjabat malah menjabat.
Golput cuma bikin enggak ngerasa bersalah karena kita enggak milih calon yang salah tapi akan bikin kita jadi pengecut. Ikutan komen omnibus law bla bla bla bahkan macam paling dirugiin aja tapi enggak ikut andil dalam memilih calon yang salah itu. Makanya ku sebut orang-orang gitu pengecut!
Aku sadar, kita sama-sama enggak tahu waktu pilkada mana yang bisa kita percaya sepenuhnya dan yakin enggak bakal berkhianat di kemudian hari tapi dengan membiarkan pilkada berjalan tanpa hak suaramu terus misal yang jadi adalah calon yang paling buruk bukannya itu lebih menjadikan kamu enggak berguna banget buat negara. Enggak ikut bangun negara dengan ikut pilkada tapi ikut komen soal negara. Wagu aja sih kalo kata orang jawa. Ra mashok, lur!
Ini jangan diambil mentah-mentah "Jadi, kalo golput enggak boleh nih beraspirasi?". Tolong aja woy wqwq maksudku makanya ayo jangan pada flashback dengan ngungkit-ngungkit kegolputanmu kalo emang mau beraspirasi. Silakan aspirasi dan fokus pada masalahnya jangan keluar konteks karena tujuan pembahasannya jadi enggak sampai dan meleber kemana-mana dan bae-bae kalo jadi boomerang buat diri kamu sendiri wqwq.
Kawal terus tapi plis banget fokus sama problem dan penyelewangannya jangan dibumbui dengan hal-hal yang jauh banget hubungannya mon map karena yang perlu disoriti sekarang adalah pasal dan kinerja DPR dan pihak yang bersangkutan bukan nyalahin keadaan waktu pemilu. Toh juga udah kadung kepilih dan menjabat woy itu para bapak ibu DPRnya jadi ya ayo fokus ke kinerjanya sekarang aja dan kawal sama-sama.
Jangan ngasih tahu ke orang-orang kalo kamu golput kalo enggak mau dibully wqwq. Jangan sampe dah kena semprot "Ah berpartisipasi dalam membangun negara juga enggak giliran negara bubrah ikutan protes". Orang-orang kek gini nih yang harusnya ikut ditenggelamkan bareng kapal asing sama Bu Susi dulu wqwq.
Oya bukan maksud apa nih ya, pasti ada kok bapak ibu DPR yang "nggenah" kinerjanya. Mereka juga sedang memperjuangkan ini sama-sama supaya ada perbaikan. Jan lupa nama-nama itu juga dicatat ya manatau nyalon lagi kan kalo rekam jejaknya bagus kenapa enggak buat dipilih di next periode.
Moga-moga bapak dan ibu DPR yang sedang memanfaatkan kesempitan di tengah pandemi ini segera bobok lagi aja ya guys. Serem emang kalo pada melek wqwq. Moga aspirasi kita semua untuk minta revisi segera dikabulkan dan tercipta undang-undang yang bisa menyejahterakan kita semua ya.
Salam perjuangan!

Komentar