Langsung ke konten utama

Teroris yang beragama Islam, bukan Islam?

Hari Minggu, 13 Mei 2018 Indonesia berduka, khususnya untuk 3 gereja di Kota Surabaya yaitu Gereja Kristen Indonesia di Jalan Diponegoro, Gereja Santa Maria Ngagel, dan Gereja Pantekosta di Jalan Arjuno dan di wilayah rumah susun Wonocolo Taman Sidoarjo. Kemudian hari Senin, 14 Mei 2018 Mapolrestabes Surabaya juga diguncang bom. Hari senin itu aku mendapat video Ibu Risma (Walikota Surabaya) sampai menangis karena tak kuasa menahan duka atas wilayah kepemimpinannya.

Aku menyoroti kasus ini kepada pelakunya. Semua pelakunya beragama islam (muslim). Pada masa itu banyak sekali warganet yang menghujat mereka, kendati agama mereka dan keseharian mereka di lingkungannya. Mereka muslim dengan kesehariannya yang baik-baik saja bahkan rajin ke masjid membuat warganet semakin menghujat mereka. “Teroris itu bukan islam”, “Ke masjid itu hanya kedok saja untuk menyusun rencana pengeboman biar tidak terendus masyarakat”, “sok-sokan baik ke warga biar tidak ketahuan”. Lebih parahnya lagi ada warganet yang mengeneralisasi bahwa “umat islam emang didikan terorisme”, “umat islam bibit terorisme”, “katanya agama yang menjaga perdamaian, mana buktinya!”

Benarkah mereka yang muslim itu, yang rajin ke masjid itu ketika menjadi teroris lalu tidak menjadi muslim lagi?

Belum lama ini aku melihat video beropininya kak Gita Savitri Devi dan kak Paul Andre (cek saja di youtube). Mereka youtuber Indonesia yang saat ini masih tinggal di Jerman. Mereka beropini bahwa teroris itu ya tetap muslim. Tak usah dipungkiri bahwa mereka memang muslim. Kita sebagai muslim tak usah memungkiri bahwa memang ada muslim yang “semacam itu”, oke kita sebut mereka “aliran tertentu” saja ya biar mudah dipahami. Aku setuju dengan pendapat itu. Sebab semakin kita memungkiri itu, bisa jadi pengikut aliran itu justru malah bertambah banyak.

Menurutku pribadi, mereka tetaplah seorang muslim. Namun muslim yang tidak benar-benar mengamalkan Al-Quran (pedoman umat muslim). Muslim yang mempelajari Al-Quran tidak dengan jiwa yang ramah tapi dengan jiwa yang pendendam. Muslim yang mempelajari Al-Quran setengah-setengah, tak tahu makna dan tak berusaha mendalami lebih lanjut. Yang demikian itu menyebabkan mereka hanya berfokus kepada 1 ayat, pun 1 ayat itu tak dipahami dengan baik ditambah keikutsertaan mereka dalam organisasi, organisasi yang semakin menyulut dendam mereka (dengan diperkuat oleh 1 ayat pedoman) itu tadi.

Kemudian menanggapi warganet yang mengeneralisasi tadi, kita juga harus memberi pemahaman bahwa memang ada lho kalangan muslim yang “aliran tertentu” tadi itu. Hal ini perlu diedukasikan, bukan hanya kepada umat agama lain, tapi kepada muslim keseluruhan juga perlu, agar muslim yang belum terpengaruh aliran tersebut dapat lebih berhati-hati. Hal ini sama seperti yang kak Gita bilang bahwa perlu dilakukan supaya kita bisa melakukan preventif action. Supaya hal-hal begini tidak terulang lagi; mengeneralisasi semua pihak padahal yang melakukan hanya aliran tertentu saja yang notabene juga sudah di cuci otaknya dengan ayat mentah-mentah. Jika preventif berhasil dilakukan semoga kalimat “umat islam bibit terorisme” bisa hilang dan umat muslim yang benar-benar di jalan yang lurus dapat bekerja sama dengan agama lain untuk memerangi terorisme dan menjaga perdamaian Indonesia.

Ada hampir 30 ayat dalam Al-Quran yang menyerukan untuk berjihad. Namun apakah mengagung-agungkan islam dengan tagline “membela islam” meskipun dibalik itu harus membunuh umat lain (yang tak berdosa dan tak jahat kepada kita) itu juga berjihad?

Aku mengutip dari website Risalah Islam bahwa pengertian jihad dewasa ini tampak makin "menyempit", yaitu hanya dipahami sebagai “perang suci” (holy war) atau “perang bersenjata” (jihad fisik-militer). Bahkan, dewasa ini kalangan masyarakat Barat kerap mengasosiasikan jihad dengan ekstremisme, radikalisme, bahkan terorisme. Aksi kekerasan sebagai bentuk perlawanan dan perjuangan sebuah gerakan Islam oleh Barat disebut aksi “terorisme”. Sebaliknya, pihak gerakan Islam meyakini itu sebagai salah satu manifestasi jihad fi sabilillah.

Sesungguhnya kewajiban jihad dalam arti khusus ini (berperang) tiba bagi umat Islam, apabila atau dengan syarat: 

1.      Agama Islam dan kaum Muslim mendapat ancaman atau diperangi lebih dulu (QS 22:39, 2:190)

2.      Islam dan kaum Muslim mendapat gangguan yang akan mengancam eksistensinya  (QS 8:39)

3.      Untuk menetidakkan kebebasan beragama (QS 8:39)

4.      Membela orang-orang yang tertindas (QS 4:75).

Aku berkesimpulan bahwa kasus si Surabaya dan Sidoarjo bukanlah jihad untuk memerangi apapun. Sebab kondisi Indonesia dalam keadaan baik-baik saja. Marilah berkaca dengan keadaan saudara kita di Palestina sana. Tidakkah harusnya kita lebih bersyukur, bukan membuat ricuh terhadap keadaan yang sesungguhnya sudah baik-baik saja.

Aku ingin membahas surat Al-Kafirun, surat Al-Kafirun adalah surat penanda betapa toleransi harusnya sangat dijunjung tinggi oleh umat muslim sebab perintah ini tertuang dalam ayat 2-6. Surat ini turun tatkala Nabi Muhammad dipaksa oleh Kaum Quraisy untuk menyembah Tuhan mereka. Arti surat Al-Kafirun 2-6:

Ayat ke-2: Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.

Ayat ke-3: Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah.

Ayat ke-4: Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah.

Ayat ke-5: Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah.

Ayat ke-6: Untukmu lah agamamu dan untukku lah agamaku.

Dalam surat ini jelas, bahwa umat muslim tidak perlu menggebu-menggebu dalam berjihad. Toh kita di Indonesia tidak sedang disakiti oleh siapa-siapa. Allah sudah memerintahkan untuk menunjung tinggi toleransi terhadap agama lain. Jadi ayolah bareng-bareng jaga perdamaian. Tidak enak hidup dalam permusuhan dan peperangan. Ayo gunakan pedoman di masing-masing kitab suci agama masing-masing untuk saling bertoleransi terhadap umat agama lain. Selama tidak saling mengganggu dan tidak ada “faktor pengganggu” aku jamin kita bisa hidup berdampingan dengan damai.

Postingan populer dari blog ini

Amanah Tak Pernah Salah Memilih Pundak Tuannya

Pasti kalian pernah denger kalimat “amanah tak pernah salah memilih pundak tuannya”. Berdasar orang-orang yang memiliki amanah dan survey kecil-kecilan yang aku lakukan bahwa kalimat itu sering kali menjadi senjata dan kekuatan bagi mereka untuk kuat dalam menjalankan amanahnya. Mereka meyakini bahwa segala beban-beban dalam kehidupan mereka itu sudah diatur oleh yang kuasa, mereka percaya bahwa mereka akan mendapatkan sesuatu hal yang mungkin tidak bisa orang lain dapatkan.  Saat seseorang mendapatkan suatu amanah lalu dia menjalankannya dengan niat mencari ridho yang kuasa, maka segala beban berat di atas pundaknya akan dibantu diangkat alias berasanya enteng banget aja pas jalanin. Terdengar klise dan magis tapi kejadian beneran. Amanah secara istilah berarti jujur atau dapat dipercaya. P erilaku yang tetap dalam jiwa, dengannya seseorang menjaga diri dari apa-apa yang bukan menjadi haknya walaupun terdapat kesempatan untuk melakukannya.  Amanah itu ada banyak jeni...

Memangil Masa Lalu

"Masa lalu enggak usah diinget inget lagi. Jangan nengok ke belakang. Hidup itu harus ke depan"  Enggak sepenuhnya benar dan enggak sepenuhnya salah. Di dunia ini enggak ada yang absolut kok, semuanya tergantung. Bisa tergantung tujuannya, tergantung alasannya, tergantung peruntukannya, tergantung siap dan tidaknya, dan tergantung yang lainnya. Satu hal yang pasti, masa lalu juga bagian dari diri kita. Enggak bisa dihapus. Kalau dihapus ya berarti meniadakan keberadaaan kita di masa sekarang dan masa depan. Kita sudah terlanjur terbentuk oleh masa lalu.  Kalau sekiranya masa lalu sangat tidak perlu dikenang setiap saat, maka ia cuma perlu dibungkus rapi dan dibuka kembali saat kita siap atau bahkan tidak akan pernah dibuka lagi sama sekali sampai kapanpun. Your choice! Tapi aku ingin berbagi bagaimana caranya bersyukur dengan mudah. Enggak dipungkiri kita pasti sering banget kufur nikmat kan. Sering banget ngeluh seakan-akan Allah.swt jahat banget sama...

Kuliah Kerja Nyata (KKN)

Periode ini adalah Kuliah Kerja Nyata ke 55 Universitas Islam Indonesia 2017. Nah alhamdulillah banget dapat lokasi yang gak terlalu jauh banget dari Jogja yaitu di Dusun Kekoan Desa Pogalan Kecamatan Pakis Kabupaten Magelang Jawa Tengah. Kalo kalian tahu tempat wisata Top Selfie Pinus Kragilan, nah dusun kekoan ini berada di atas tepat dusun kragilan. Pengen cerita kalo KKN kali ini unitku yaitu unit 282 ada 9 orang yang menakjubkan, yang sampai sekarang selalu kusyukuri. 9 orang ini ada Mas Prasetyo Ardianto (Teknik Industri) dia ini kanit alias ketua unit yang uuuuhh wakaka gakusah dilanjutkan ya takut fitnah ah. Ketua unit ini parah banget jailnya tapi baiknya nggak usah ditanya ya. Ada Helmi Ilham Nugraha (Manajemen IP) hehe anak ini kocak, ya begitulah selalu bikin khawatir gara-gara dia sok sibuk banget karena kepilih jadi koordinator desa gitu deh, kadang suka lupa makan dan jiwanya akamsi hmmm anak kampung sini banget, kata warga dusun sini dia suruh nikah terus tinggal ...