Hari Minggu, 13 Mei 2018 Indonesia berduka, khususnya untuk 3 gereja di Kota
Surabaya yaitu Gereja Kristen Indonesia
di Jalan Diponegoro, Gereja Santa Maria Ngagel, dan Gereja Pantekosta di Jalan
Arjuno dan di wilayah rumah susun Wonocolo Taman Sidoarjo. Kemudian hari Senin,
14 Mei 2018 Mapolrestabes Surabaya juga diguncang bom. Hari senin itu aku mendapat video Ibu Risma (Walikota Surabaya) sampai menangis karena tak kuasa
menahan duka atas wilayah kepemimpinannya.
Sesungguhnya kewajiban jihad dalam arti khusus ini (berperang) tiba
bagi umat Islam, apabila atau dengan syarat:
1. Agama
Islam dan kaum Muslim mendapat ancaman atau diperangi lebih dulu (QS 22:39,
2:190)
2. Islam
dan kaum Muslim mendapat gangguan yang akan mengancam
eksistensinya (QS 8:39)
3. Untuk
menetidakkan kebebasan beragama (QS 8:39)
4. Membela
orang-orang yang tertindas (QS 4:75).
Ayat
ke-3: Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah.
Ayat
ke-4: Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah.
Ayat
ke-5: Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah.
Ayat
ke-6: Untukmu lah agamamu dan untukku lah agamaku.
Aku menyoroti kasus ini kepada pelakunya. Semua pelakunya
beragama islam (muslim). Pada masa itu banyak sekali warganet yang menghujat
mereka, kendati agama mereka dan keseharian mereka di lingkungannya. Mereka
muslim dengan kesehariannya yang baik-baik saja bahkan rajin ke masjid membuat
warganet semakin menghujat mereka. “Teroris itu bukan islam”, “Ke masjid itu
hanya kedok saja untuk menyusun rencana pengeboman biar tidak terendus
masyarakat”, “sok-sokan baik ke warga biar tidak ketahuan”. Lebih parahnya lagi
ada warganet yang mengeneralisasi bahwa “umat islam emang didikan terorisme”,
“umat islam bibit terorisme”, “katanya agama yang menjaga perdamaian, mana
buktinya!”
Benarkah mereka yang muslim itu, yang rajin ke masjid itu
ketika menjadi teroris lalu tidak menjadi muslim lagi?
Belum lama ini aku melihat video beropininya kak Gita
Savitri Devi dan kak Paul Andre (cek saja di youtube). Mereka youtuber
Indonesia yang saat ini masih tinggal di Jerman. Mereka beropini bahwa teroris
itu ya tetap muslim. Tak usah dipungkiri bahwa mereka memang muslim. Kita
sebagai muslim tak usah memungkiri bahwa memang ada muslim yang “semacam itu”,
oke kita sebut mereka “aliran tertentu” saja ya biar mudah dipahami. Aku setuju dengan pendapat itu. Sebab semakin kita memungkiri itu, bisa jadi pengikut
aliran itu justru malah bertambah banyak.
Menurutku pribadi, mereka tetaplah seorang muslim.
Namun muslim yang tidak benar-benar mengamalkan Al-Quran (pedoman umat muslim).
Muslim yang mempelajari Al-Quran tidak dengan jiwa yang ramah tapi dengan jiwa
yang pendendam. Muslim yang mempelajari Al-Quran setengah-setengah, tak tahu
makna dan tak berusaha mendalami lebih lanjut. Yang demikian itu menyebabkan
mereka hanya berfokus kepada 1 ayat, pun 1 ayat itu tak dipahami dengan baik
ditambah keikutsertaan mereka dalam organisasi, organisasi yang semakin
menyulut dendam mereka (dengan diperkuat oleh 1 ayat pedoman) itu tadi.
Kemudian menanggapi warganet yang mengeneralisasi tadi,
kita juga harus memberi pemahaman bahwa memang ada lho kalangan muslim yang “aliran
tertentu” tadi itu. Hal ini perlu diedukasikan, bukan hanya kepada umat agama
lain, tapi kepada muslim keseluruhan juga perlu, agar muslim yang belum
terpengaruh aliran tersebut dapat lebih berhati-hati. Hal ini sama seperti yang
kak Gita bilang bahwa perlu dilakukan supaya kita bisa melakukan preventif
action. Supaya hal-hal begini tidak terulang lagi; mengeneralisasi semua
pihak padahal yang melakukan hanya aliran tertentu saja yang notabene juga
sudah di cuci otaknya dengan ayat mentah-mentah. Jika preventif berhasil
dilakukan semoga kalimat “umat islam bibit terorisme” bisa hilang dan umat
muslim yang benar-benar di jalan yang lurus dapat bekerja sama dengan agama
lain untuk memerangi terorisme dan menjaga perdamaian Indonesia.
Ada hampir 30 ayat dalam Al-Quran yang menyerukan untuk
berjihad. Namun apakah mengagung-agungkan islam dengan tagline “membela islam”
meskipun dibalik itu harus membunuh umat lain (yang tak berdosa dan tak jahat
kepada kita) itu juga berjihad?
Aku mengutip dari website Risalah Islam bahwa pengertian jihad dewasa ini tampak makin
"menyempit", yaitu hanya dipahami sebagai “perang suci” (holy war)
atau “perang bersenjata” (jihad fisik-militer). Bahkan, dewasa ini kalangan
masyarakat Barat kerap mengasosiasikan jihad dengan ekstremisme, radikalisme,
bahkan terorisme. Aksi kekerasan sebagai bentuk perlawanan dan
perjuangan sebuah gerakan Islam oleh Barat disebut aksi “terorisme”.
Sebaliknya, pihak gerakan Islam meyakini itu sebagai salah satu manifestasi
jihad fi sabilillah.
Aku berkesimpulan bahwa kasus si Surabaya dan Sidoarjo
bukanlah jihad untuk memerangi apapun. Sebab kondisi Indonesia dalam keadaan
baik-baik saja. Marilah berkaca dengan keadaan saudara kita di Palestina sana.
Tidakkah harusnya kita lebih bersyukur, bukan membuat ricuh terhadap keadaan
yang sesungguhnya sudah baik-baik saja.
Aku ingin membahas surat Al-Kafirun, surat Al-Kafirun
adalah surat penanda betapa toleransi harusnya sangat dijunjung tinggi oleh
umat muslim sebab perintah ini tertuang dalam ayat 2-6. Surat ini turun tatkala
Nabi Muhammad dipaksa oleh Kaum Quraisy untuk menyembah Tuhan mereka. Arti
surat Al-Kafirun 2-6:
Ayat ke-2: Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.
Dalam surat ini jelas, bahwa umat muslim tidak perlu
menggebu-menggebu dalam berjihad. Toh kita di Indonesia tidak sedang disakiti
oleh siapa-siapa. Allah sudah memerintahkan untuk menunjung tinggi toleransi
terhadap agama lain. Jadi ayolah bareng-bareng jaga perdamaian. Tidak enak
hidup dalam permusuhan dan peperangan. Ayo gunakan pedoman di masing-masing
kitab suci agama masing-masing untuk saling bertoleransi terhadap umat agama
lain. Selama tidak saling mengganggu dan tidak ada “faktor pengganggu” aku jamin kita bisa hidup berdampingan dengan damai.