Kita sering dengar kalimat “sabar itu ada batasnya”. Bagiku itu kurang
tepat. Sabar itu sangat luas, kalo sudah sabar ya sabar aja. Dalam islam ada
kalimat “Man Shabara Zahfira” “siapa yang bersabar maka akan beruntung” maka
ketika kesabaran kita habis bagaimana dengan keberuntungan yang sudah kita
peroleh?.
Jadi
kalo ada yang merusak kepercayaanku, aku selalu mengatakan “Aku bisa sabar
dan ikhlas, memaafkan juga bisa ku lakukan tapi untuk mempercayaimu lagi itu
yang sulit, sebab kepercayaanku sudah tak utuh lagi”
"Barangsiapa yang memafkan dan berbuat baik, maka
pahalanya atas tanggungan Allah" (QS: AsySyura: 40).
Selamat
berjuang untuk sabar, ikhlas, memaafkan dan selalu berusaha mudah mempercayai
kembali.
Sabar
yang sesungguhnya jika dibarengi dengan keikhlasan maka akan sempurna (postinganku sebelumnya “Ikhlas Versi Aku”) Sabar bukan hanya menahan emosi tapi lebih
kepada tidak mengeluh, agar kita tidak mudah mengeluh maka harus mengikhlaskan.
Di postingan itu soal Ikhlas Versi Aku, Aku mencontohkan soal cinta ya ehehe kita
kembali lagi pada contoh yang sama. Ikhlas kita adalah disaat doi memilih
bersama yang lain ya, lalu dimana letak sabarnya?
Letak
sabarnya adalah dimana-mana, dimulai sejak doi melakukan pilihannya itu, selama
proses doi bersama yang lain itu walpoun mungkin agak pedes ya ngeliatnya
sampai kepada ketika doi kembali kepada kita untuk berbagai hal bisa menyapa,
meminta maaf, menjalin silaturahmi kembali atau mungkin kembali yang
sesungguhnya (?). Kenapa aku bilang sabar dalam hal ini ada dimana-mana,
karena itu tadi, sabar itu tak berbatas. Apapun yang doi lakukan, apa ada hal
lain yang bisa menenangkan hidup dan hati kita selain sabar dan ikhlas?
Kenapa aku katakan bahwa kepercayaan juga harusnya tak ada batasnya?
Karena
hal yang sangat sulit dalam hidup adalah memaafkan, bagiku bukan sabar dan
ikhlas, lebih daripada itu. Keyakinan dan kepercayaan. Kita bisa sabar dengan
semua perilaku yang doi lakukan, bisa ikhlas se ikhlas-ikhlasnya tapi apakah
ketika doi kembali, kita tidak akan flashback dengan
semua yang sudah terjadi. Apakah iya sabar dan ikhlas mampu mengembalikan
kepercayaan? Bisa tapi lebih sulit. Sebab melepas lebih mudah daripada menerima
(terkadang begitu untuk hal-hal yang menyakitkan), sebab mengikat dengan erat
ketika doi berusaha melepaskan akan lebih sulit daripada kita berusaha melepas
sedangkan doi ingin mengikat. Karena hakikatnya jerih payah dan usaha yang kita
butuhkan lebih banyak adalah untuk mengikat bukan melepaskan. Itulah kenapa
melepas lebih mudah daripada menerima.
Ketika
kepercayaan ternoda, kemungkinan kecil harapan untuk kembali. Sekali merusak
sesuatu yang utuh, ia akan meninggalkan keretakan sampai akhir lifetime-nya.
Bagi aku, kita bisa memaafkan dengan sempurna dan mengubur semuanya. Bisa juga
percaya lagi, tapi pasti tidak seutuh sebelumnya.
Kadang aku merasa hina, sebab maaf yang sesungguhnya adalah menerima kembali dengan
sepenuh hati artinya harus mampu mempercayai kembali dan mampu meleburkan
segala kesalahan doi meskipun sudah merusak kepercayaan.
Kata
Allah.swt begini:
Kalo
ada yang pernah baca novel Dan Hujan Pun Berhenti… Karya Farida Susanty di sini aku tidak bermaksud spoiler tapi ingin menyampikan hakikat memaafkan yang
dilakukan oleh tokoh Ibunda Iris terhadap Spiza karena sudah dengan tidak
sengaja membunuh putri kesayangannya, memaafkan itu hakikatnya ya seperti itu
membuka kembali pintu kepercayaan sehingga membuat orang yang dimaafkan dapat
melanjutkan kehidupannya kembali dengan tenang dan menjaga kepercayaan kedua
yang telah diberikan kepadanya.
Semoga
kita jangan sampai merusak kepercayaan yang diberikan orang lain kepada kita.
